Iklan

Saat IHSG Bergejolak, Investor Ritel Perlu Belajar Bertahan Dulu

22 Mei 2026, 14:01 WIB


Suluah.id - Bayangkan pasar saham seperti musim laut. Ada masa ombak tenang yang membuat investor percaya diri, tetapi ada juga badai yang membuat banyak orang panik dan kehilangan arah. Dalam kondisi seperti sekarang, ketika IHSG bergerak penuh tekanan, kemampuan bertahan justru menjadi aset paling berharga bagi investor.

Banyak investor pemula mengira kunci sukses di bursa hanya soal mencari saham “cuan besar”. Padahal, fase sulit sering kali lebih banyak menguji mental dibanding kemampuan analisis teknikal.

Investor kawakan biasanya punya satu prinsip sederhana: survive first, profit later.

1. Likuiditas adalah Senjata Investor

Memiliki dana tunai bukan berarti takut masuk pasar. Cash justru memberi fleksibilitas saat harga saham bagus turun drastis.

Investor bisa menyimpan dana cadangan di instrumen likuid seperti reksa dana pasar uang agar dana tetap berkembang sambil menunggu momentum terbaik.

Dalam sejarah pasar modal, peluang besar sering muncul saat mayoritas investor justru panik.

2. Fokus pada Perusahaan Berkualitas

Kondisi pasar bearish menjadi “filter alami” di bursa. Emiten dengan fundamental kuat biasanya lebih mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.

Beberapa indikator sederhana yang bisa diperhatikan:
  • Utang masih terkendali
  • Bisnis tetap menghasilkan laba
  • Arus kas sehat
  • Manajemen memiliki rekam jejak baik

Investor legendaris Warren Buffett bahkan terkenal dengan filosofi membeli bisnis bagus untuk jangka panjang, bukan sekadar mengejar harga murah.

3. Jangan Abaikan Risiko

Banyak portofolio hancur bukan karena market turun, melainkan karena investor terlalu agresif.

Kesalahan yang sering terjadi antara lain:
  • Semua dana masuk saham berisiko tinggi
  • Hanya bergantung pada 1-2 saham
  • Membeli karena FOMO
  • Tidak memiliki diversifikasi aset

Di tengah volatilitas, pengendalian emosi menjadi sama pentingnya dengan analisis saham.

4. Evaluasi Tesis Investasi

Investor juga perlu membedakan antara “noise pasar” dan masalah fundamental perusahaan.

Contohnya, pelemahan rupiah bisa meningkatkan biaya impor dan beban utang emiten tertentu. Jika kondisi bisnis berubah signifikan, investor perlu berani mengevaluasi ulang keputusan investasinya.

5. Hindari Overconfidence

Musuh terbesar investor sering kali adalah rasa terlalu percaya diri.

Harga saham bisa bergerak di luar ekspektasi akibat faktor global, suku bunga, geopolitik, hingga sentimen pasar. Karena itu, keputusan investasi sebaiknya tetap berbasis data dan fakta, bukan ego.

Pada akhirnya, masa sulit di bursa bukan sekadar fase menakutkan, melainkan proses pembelajaran. Investor yang mampu menjaga mental, disiplin, dan terus belajar biasanya justru menjadi lebih matang ketika pasar kembali pulih.

Literasi finansial bukan tentang selalu untung, tetapi tentang mampu bertahan dan mengambil keputusan lebih bijak di setiap siklus pasar. (*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Saat IHSG Bergejolak, Investor Ritel Perlu Belajar Bertahan Dulu

Iklan