Suluah.id - Ramadan selalu menghadirkan ritme hidup yang berbeda. Waktu makan bergeser ke sahur dan berbuka, malam menjadi lebih panjang dengan ibadah, sementara siang tetap harus produktif. Tak heran, banyak orang mengeluh lelah, sulit fokus, bahkan mudah emosional di siang hari.
Di tengah perubahan ini, tidur siang—atau yang populer disebut power nap—ternyata bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan strategi ilmiah untuk menjaga performa.
Sejumlah riset terbaru menguatkan hal tersebut. Studi tahun 2024 yang dipublikasikan dalam jurnal olahraga internasional menemukan bahwa atlet yang berpuasa selama Ramadan dan menjalani tidur siang sekitar 40 menit setelah latihan malam intens mengalami peningkatan signifikan dalam kinerja fisik dan kognitif.
Mereka lebih tajam secara mental dan lebih kuat secara fisik dibandingkan yang tidak tidur siang.
Penelitian lain pada pemain sepak bola menunjukkan hasil serupa: tidur siang membantu meningkatkan performa lari bolak-balik jarak pendek dan tes perhatian. Artinya, tidur siang bukan hanya memulihkan rasa kantuk, tetapi juga meningkatkan respons dan konsentrasi.
Mengapa ini bisa terjadi?
Secara biologis, saat kita terjaga dalam waktu lama—terutama dengan jam tidur malam yang lebih pendek—“tekanan tidur” di otak meningkat. Inilah yang membuat kita mengantuk dan sulit fokus.
Tidur siang memberi kesempatan bagi otak dan tubuh untuk melakukan reset. Terutama di awal siang hari, ketika secara alami konsentrasi memang cenderung menurun.
Riset 2024 lainnya menunjukkan tidur siang 40 menit efektif mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan kemampuan berpikir cepat. Bahkan penelitian 2025 terhadap atlet perempuan menemukan bahwa tidur siang 40–90 menit dapat memperbaiki suasana hati dan performa fisik setelah kurang tidur semalaman.
Namun, ada catatan penting: tidur terlalu lama bisa memicu sleep inertia—rasa pusing atau linglung setelah bangun. Untuk mengatasinya, paparan cahaya terang, mencuci muka, atau aktivitas ringan bisa membantu tubuh “menyala” kembali.
Lalu, berapa durasi ideal?
Tidur singkat 20–30 menit cocok untuk meningkatkan fokus tanpa risiko kantuk berlebihan. Jika ingin manfaat lebih besar untuk fisik dan mental, 40 menit bisa menjadi pilihan—asal tidak dilakukan terlalu sore agar tidak mengganggu tidur malam.
Jadi, lebih baik tidur siang atau tidak saat Ramadan?
Jawabannya bergantung pada kondisi tubuh dan pola tidur masing-masing. Jika malam Anda lebih pendek karena sahur dan ibadah, tidur siang yang terukur bisa menjadi penyeimbang yang efektif.
Pada akhirnya, tidur siang bukanlah tanda malas. Ia adalah strategi cerdas untuk menjaga energi, suasana hati, dan produktivitas—agar Ramadan tetap dijalani dengan fokus, bugar, dan penuh makna.(*)



