Suluah.id - Bulan Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ia bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan ketika umat Islam merasa lebih dekat dengan langit. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan keistimewaan itu dalam QS Al-Baqarah ayat 185: Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Ayat ini menjadi fondasi mengapa Ramadhan kerap disebut Syahrul Qur’an—bulan Al-Qur’an. Dalam tradisi Islam, wahyu pertama diterima Nabi Muhammad SAW pada malam Lailatul Qadar.
Hadis riwayat Imam Ahmad juga menyebut bahwa kitab-kitab samawi sebelumnya—Shuhuf Ibrahim, Taurat, Injil—turun di bulan yang sama. Ramadhan, dengan demikian, bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan “turunnya cahaya”.
Tradisi ini tercermin dalam praktik generasi awal Islam. Imam Malik diriwayatkan menghentikan majelis ilmunya saat Ramadhan untuk fokus membaca Al-Qur’an. Sufyan Ats-Tsauri pun melakukan hal serupa. Bahkan Nabi Muhammad SAW setiap malam Ramadhan bertadarus bersama Malaikat Jibril, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Ibnu Abbas (HR. Bukhari).
Menariknya, hadis tersebut juga mencatat bahwa kedermawanan Nabi memuncak di bulan Ramadhan. Seakan memberi pesan: interaksi dengan Al-Qur’an melahirkan empati sosial. Spiritualitas tidak berhenti di sajadah, tetapi menjelma menjadi kepedulian.
Pesan reflektif juga datang dari Muhammad Iqbal. Kepada putranya, ia berpesan: “Bacalah Al-Qur’an seolah-olah ia diturunkan kepadamu.”
Senada dengan itu, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Fawaid menegaskan pentingnya menghadirkan hati saat membaca Al-Qur’an, karena ia adalah firman Allah yang ditujukan kepada setiap insan.
Di era modern, ketika Ramadhan sering diwarnai hiruk-pikuk diskon dan euforia konsumsi, pesan ini terasa relevan. Jika gawai kita membutuhkan GPS untuk menemukan arah, hati pun membutuhkan petunjuk. Al-Qur’an adalah “navigasi spiritual” itu.
Puasa, sebagaimana sabda Nabi (HR. Bukhari dan Muslim), menjanjikan ampunan bagi yang menjalankannya dengan iman dan harap. Namun ruhnya terletak pada kedekatan dengan Al-Qur’an.
Ramadhan akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang membuka ruang dialog antara manusia dan Tuhannya. Pertanyaannya sederhana: sudahkah kita benar-benar mendengarkan?
(*)
(*)




