Suluah.id - Ada satu kegelisahan yang sering dirasakan banyak orang hari ini: hidup terasa sibuk, target tercapai, pengakuan sosial didapat, tetapi hati tetap kosong. Kita seperti terus berlari, namun tak pernah benar-benar sampai. Dalam Islam, kegelisahan semacam ini bukan sekadar persoalan psikologis. Ia bisa jadi tanda adanya transaksi yang keliru dalam hidup.
Al-Qur’an menyebutnya dengan bahasa yang sangat tegas. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 86, Allah berfirman:
“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat.”
Ayat ini tidak sedang membahas orang kafir semata, melainkan juga menjadi peringatan bagi siapa saja yang menukar nilai akhirat demi keuntungan dunia. Dalam bahasa sederhana: kita memilih yang murah dan sementara, lalu membayarnya dengan sesuatu yang abadi.
Ironisnya, transaksi ini jarang terjadi lewat dosa besar yang mencolok. Ia justru hadir lewat keputusan-keputusan kecil yang dianggap wajar: memanipulasi data demi citra, menjilat atasan meski tahu kebijakan itu keliru, atau menjatuhkan rekan kerja demi ambisi pribadi. Semua dilakukan atas nama “realistis”, “tuntutan sistem”, atau “demi bertahan hidup”.
Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan dengan sangat jelas. Dalam riwayat Ibnu Hibban, Aisyah RA menyampaikan sabda Nabi:
“Barangsiapa mencari ridha manusia dengan cara membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya dan menjadikan manusia pun membencinya.”
Pesan ini relevan sepanjang zaman. Ketika prinsip dikorbankan demi pujian, hasil akhirnya bukan ketenangan, melainkan kegelisahan yang berlapis. Dunia yang dikejar pun sering kali tak benar-benar setia.
Sejarah Islam justru menunjukkan teladan yang berlawanan. Mush’ab bin Umair ra, pemuda elite Quraisy yang hidup bergelimang kemewahan, rela kehilangan segalanya demi iman. Ia wafat sebagai syuhada dalam kondisi nyaris tanpa harta, tetapi namanya harum dalam sejarah.
Begitu pula Fudhail bin Iyadh, mantan perampok yang bertobat total setelah tersentuh ayat Al-Qur’an (QS. Al-Hadid: 16), lalu berubah menjadi ulama besar. Mereka memilih “rugi” di dunia, namun menang di sisi Allah.
Hidup, pada hakikatnya, adalah rangkaian pilihan. Dan setiap pilihan adalah transaksi. Saat kita memilih jujur meski pahit, atau berbohong demi kenyamanan; saat kita mempertahankan prinsip atau menukarnya dengan keuntungan sesaat—di situlah nilai diri kita sedang diuji.
Mungkin sudah saatnya kita belajar menjadi lebih “mahal” dalam menjual diri. Tidak semua kesempatan harus diambil, tidak semua pujian harus dikejar. Sebab dunia hanyalah tempat singgah, sementara akhirat adalah tujuan pulang. Dan tak ada transaksi yang lebih merugikan selain menukar yang abadi dengan yang sebentar.(*)



