Suluah.id - Hanya secarik kecil peta. Warnanya telah pudar dimakan usia. Namun dari kertas yang diterbitkan Biro Topografi Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia tahun 1893 itu, Padang Panjang berbicara panjang lebar tentang dirinya—sekitar 130 tahun lalu, ketika kota ini belum seramai hari ini.
Peta itu tidak dibuka dengan kemegahan, melainkan dengan kekosongan. Di kawasan yang kini kita kenal sebagai pusat pasar, tak tampak bangunan berarti.
Hanya ladang penduduk, sebagaimana tertulis dalam legenda peta. Pasar Serikat—ikon ekonomi kota—bahkan belum utuh. Pembangunannya baru dimulai pada 1888 dan baru diresmikan tiga dekade kemudian, tahun 1918. Artinya, Pasar Usang di dekat stasiun kereta masih menjadi denyut utama perdagangan saat itu.
Rel besi sudah datang lebih dulu. Stasiun Kereta Api Padang Panjang, yang pada 1893 baru berusia dua tahun (dibangun 1891), berdiri berdampingan dengan Kampung Jawa atau Kampung Jao.
Di sanalah banyak pegawai Sumatra Staatspoorwegen—jawatan kereta api Hindia Belanda—tinggal, mayoritas keturunan Jawa. Kota kecil ini sejak awal sudah menjadi ruang pertemuan lintas etnis, digerakkan oleh logika transportasi dan administrasi kolonial.
Pusat kekuasaan terlihat jelas. Di kawasan yang kini menjadi taman kota, berkibar bendera Belanda di rumah dan kantor Asisten Residen H.E. Prins. Di belakangnya, Lapangan Kantin belum ada—sebuah pengingat bahwa ruang publik sering lahir belakangan, setelah kekuasaan mapan.
Di sisi lain kota, Pacuan Kuda Bancah Laweh sudah tergambar rapi. Dibangun bersamaan dengan pasar sejak 1888, gelanggang ini diresmikan dengan pacuan pertama pada 1894. Hiburan dan kontrol sosial berjalan beriringan.
Tak jauh, Tangsi Militer Belanda di Guguk Malintang—kini kawasan Secata B—terlihat luas dan tertata. Akar keberadaannya bahkan lebih tua, konon sejak masa Perang Padri (1821–1837), setelah Belanda mendapat izin dari Tuan Gadang Batipuh.
Menariknya, beberapa nama sudah hidup sebelum bangunannya ada. Lubuk Mata Kucing belum tampak sebagai kolam pemandian—itu baru dibangun 1918—namun nama “Loeboek Mato Koetjing” sudah tercatat. Ingatan lokal mendahului beton dan semen.
Peta ini juga menyimpan jejak yang nyaris hilang dari ingatan kita: Koto Tuo, Kabun Hilalang, Guguk Sikumbang, Padang Rang Kayo, Tamiang, Pauh, hingga Tanjung Biaro. Dulu, Padang Panjang dipenuhi “guguk”—bukit kecil—yang kini banyak lenyap, bukan hanya dari peta, tapi juga dari percakapan.
Tanpa satelit, tanpa foto udara, tanpa Google Earth, para juru ukur kolonial menorehkan detail kota kecil ini dengan presisi yang mengagumkan. Kita boleh mengkritik kolonialisme, tetapi pada peta ini, satu hal patut diakui: mereka meninggalkan cermin.
Tinggal pertanyaannya, apakah kita masih mau bercermin padanya—atau membiarkan sejarah perlahan menghilang bersama nama-nama guguk yang terlupakan. Lebih Tahu Padang Panjang.(*)




