Iklan

Jembatan Tinggi Silaing: Ketika Baja, Waktu, dan Ingatan Bertemu di Lembah Anai

02 Februari 2026, 13:02 WIB


Suluah.id - Ia berdiri sunyi di atas Sungai Batang Anai, menatap lembah yang tak lagi sama. Kereta tak lagi melintas. Denting baja telah lama menghilang. Namun Jembatan Tinggi di Silaing Bawah—dalam arsip disebut BH 186—tak pernah benar-benar sepi. Ia menyimpan gema zaman, tragedi, dan ambisi besar yang pernah menghubungkan pesisir Padang dengan jantung Dataran Tinggi Minangkabau.

Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua tebing. Ia adalah simpul sejarah. Panjangnya sekitar 85 meter, menjulang setinggi hampir 15 meter, dengan lebar lima meter. Seluruh tubuhnya terbuat dari baja, bagian bawahnya melengkung setengah lingkaran—ciri khas teknik jembatan Eropa akhir abad ke-19. 

Di sinilah teknologi industri Barat bertemu medan alam Sumatera yang curam dan liar.
BH 186 mulai beroperasi pada 1892. Ia dirancang oleh A. Kuntze, insinyur dari pabrik Société Cockerill, Belgia—perusahaan raksasa baja yang jejaknya tersebar di banyak koloni Eropa. 




Jembatan ini menjadi bagian dari jalur kereta api Padang–Padang Panjang–Sawahlunto, jalur rel gigi yang memungkinkan lokomotif menaklukkan tanjakan ekstrem Lembah Anai. Tujuannya jelas: mengangkut batu bara Ombilin, salah satu tambang terpenting Hindia Belanda.

Di masa itu, kereta bukan hanya alat transportasi. Ia adalah simbol kekuasaan dan percepatan. Batu bara menggerakkan kapal, pabrik, dan mesin kolonial. Jembatan Tinggi menjadi saksi bagaimana alam Minangkabau dipaksa tunduk pada logika industri. Tak heran, jalur ini kemudian diakui UNESCO sebagai bagian dari Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto—warisan dunia yang menyimpan kisah kemajuan sekaligus eksploitasi.




Namun sejarah tak selalu berjalan di atas rel yang mulus. Di sekitar jembatan berdiri tugu peringatan. Ia mengenang kecelakaan kereta api tragis pada 1944 dan 1945, ketika nyawa melayang di masa perang dan kekacauan.

Tak jauh dari situ pula tersimpan ingatan perjuangan rakyat pada 1949, saat rel dan jembatan menjadi bagian dari medan revolusi. Baja yang sama pernah menopang gerbong, lalu menjadi saksi darah dan perlawanan.

Sejak 2009, Jembatan Tinggi tak lagi dilalui kereta. Fungsi teknisnya berhenti, tetapi maknanya tidak. Sayangnya, waktu dan alam tak pernah menunggu. Pada akhir 2025, banjir bandang dan longsor menerjang kawasan Silaing Bawah. Struktur jembatan terdampak. 

Hingga Desember 2025, pemerintah masih mengkaji perbaikan struktural agar nilai sejarah dan status cagar budayanya tetap terjaga.

Dan disaat jembatan tua ini menua, jalan nasional dan jembatan kembar modern di sekitarnya justru dikebut. Proyek itu ditargetkan rampung sebelum Lebaran 2026. Lalu lintas akan lancar, ekonomi bergerak. Tetapi pertanyaannya: apakah ingatan ikut dirawat, atau justru tertinggal di bawah bayang beton baru?

Jembatan Tinggi Silaing mengajarkan satu hal sederhana: pembangunan selalu meninggalkan jejak. Ada yang berupa kemajuan, ada pula yang berupa luka.

Menjaga jembatan ini bukan soal nostalgia semata, melainkan soal menghormati memori kolektif—tentang bagaimana kita pernah sampai ke sini, dan ke mana seharusnya kita melangkah. Makin tahu Padang Panjang. (*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Jembatan Tinggi Silaing: Ketika Baja, Waktu, dan Ingatan Bertemu di Lembah Anai

Iklan