Iklan

Padang Panjang: Dapur Sunyi yang Memasak Gagasan Besar

02 Februari 2026, 09:16 WIB


Suluah.id - Suatu pagi di awal abad ke-20, di sebuah surau sederhana dekat Jembatan Besi, Padang Panjang, suara diskusi terdengar nyaring. Anak-anak muda berkopiah, bersarung, sebagian datang dari jauh—Tapanuli, Aceh, Malaya—berdebat tentang tafsir, ilmu hitung, hingga makna kemerdekaan. 

Dari ruang kecil itulah, gagasan-gagasan besar mulai dimasak.

Padang Panjang tempo dulu bukan sekadar kota perlintasan dagang di jalur Bukittinggi–Padang. Ia adalah dapur pemikiran: tempat gagasan diracik, diuji, lalu disebarkan. Di sinilah benih modernisasi pendidikan Islam, emansipasi perempuan, dan kesadaran antikolonial bertumbuh beriringan.

Tokoh kuncinya adalah Syekh Abdul Karim Amarullah—dikenal sebagai Haji Rasul. Di bawah asuhannya, Surau Jembatan Besi berubah dari pengajian tradisional menjadi pusat intelektual yang ramai. 

Kitab-kitab Arab klasik dipelajari dengan pendekatan baru. Murid-murid, yang kala itu disebut orang siak, berdatangan dari berbagai penjuru Minangkabau dan luar daerah. Surau tak lagi sekadar tempat mengaji; ia menjadi ruang berpikir.

Tahun 1911, semangat berorganisasi mulai berembus. Guru dan murid Surau Jembatan Besi membentuk sebuah organisasi bernama Sumatera Thuwailib, yang kemudian dikenal sebagai Sumatera Thawalib. Inilah tonggak penting: pendidikan Islam mulai dirumuskan secara kolektif, terstruktur, dan sadar zaman.




Pada 1914, pengajian itu kian mendekati bentuk sekolah modern. Tujuh kelas dibentuk, kurikulum ditata, kitab disesuaikan dengan tingkat pembelajaran.

Syekh Abdul Karim Amarullah memimpin sebagai Guru Besar, dibantu Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim sebagai wakil. Pengawasan dilakukan oleh pengurus Sumatera Thawalib yang diketuai Engku Hasjim Tiku, dengan bimbingan Zainuddin Labay El Yunusy. Meski murid masih duduk bersela di lantai, arah perubahan sudah jelas.

Perubahan paling simbolik terjadi sekitar 1918. Sepulang dari lawatan ke Jawa—setelah bertemu Kiai Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1917—Syekh Abdul Karim Amarullah memperkenalkan bangku, kursi, dan gedung sekolah. Detail kecil ini sering luput dicatat, tetapi justru di sanalah maknanya: cara belajar ikut diubah, bukan hanya isi pelajaran. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi disesuaikan.

Dari Sumatera Thawalib dan jaringan Kaum Mudo, lahir gagasan-gagasan antikolonial. Perlawanan terhadap Belanda tidak selalu bersuara keras; ia diselipkan lewat tulisan, diskusi, dan kurikulum. Pena menjadi senjata, sekolah menjadi medan.

Padang Panjang juga mencatat sejarah penting pada 1 November 1923, ketika Rahmah El Yunusiyyah mendirikan Diniyyah Puteri—lembaga pendidikan modern khusus perempuan pertama di Indonesia. Di kota yang sama, modernisasi Islam dan emansipasi perempuan berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

Tak heran jika Padang Panjang dijuluki “Serambi Mekah” Sumatera Barat. Hingga kini, jejaknya tersimpan dalam Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM)—pengingat bahwa kota kecil ini pernah menjadi pusat denyut intelektual Minangkabau.

Pertanyaannya kini: di tengah zaman serba cepat dan digital, masihkah kita memelihara semangat dapur pemikiran itu? Atau kita hanya menikmati hidangan sejarahnya, tanpa lagi berani memasak gagasan baru?

Padang Panjang telah memberi contoh—bahwa perubahan besar sering lahir dari ruang yang sederhana, asal pikiran dibiarkan merdeka.

Makin tahu Padang Panjang.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Padang Panjang: Dapur Sunyi yang Memasak Gagasan Besar

Iklan