Iklan

Saat Ibadah Terasa Berat, Mungkin Bukan Imannya yang Lemah

16 Januari 2026, 14:33 WIB


Suluah.id - Pernah ada masa ketika ibadah terasa hambar. Doa diucapkan, tapi hati kosong. Dosa terasa mudah dilakukan, sementara amal baik seolah tak punya arti apa-apa. Di titik itu, banyak orang buru-buru menyalahkan diri sendiri: imanku lemah, aku kurang istiqamah, atau aku kalah oleh keadaan.

Padahal, bisa jadi masalahnya bukan pada seberapa kuat iman kita, melainkan bagaimana cara kita memandang Allah.
Seorang tabi’in besar, Al-Hasan Al-Bashri, pernah mengurai persoalan ini dengan kalimat yang singkat namun menampar kesadaran:

Sesungguhnya seorang mukmin itu berbaik sangka kepada Rabbnya, maka ia memperbaiki amalnya. Dan sesungguhnya orang yang berbuat dosa berburuk sangka kepada Rabbnya, maka ia pun berbuat buruk.”
(HR. Ahmad dalam Az-Zuhd, no. 1652)

Pesannya jelas: amal adalah cermin dari prasangka hati. Orang yang yakin Allah Maha Melihat, Maha Menghargai sekecil apa pun usaha hamba-Nya, akan tetap berbuat baik meski tak ada yang menyaksikan. Ia taat bukan karena takut dihukum semata, tetapi karena percaya Allah itu dekat dan peduli.

Kita bisa belajar dari generasi awal Islam. Abu Bakar Ash-Shiddiq bersedekah diam-diam karena yakin Allah tahu niat yang tersembunyi. Umar bin Khattab keras pada dirinya sendiri bukan karena putus asa, melainkan karena percaya keadilan Allah itu nyata dan perhitungan-Nya pasti.

Para tabi’in pun demikian. Mereka menangisi dosa-dosa mereka, tetapi tidak pernah berhenti beramal. Tangisan itu lahir dari harapan, bukan keputusasaan. Mereka percaya pada firman Allah:
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Sebaliknya, banyak maksiat justru berakar dari kalimat yang terdengar “rendah hati”, seperti: “Allah tak mungkin mengampuniku”, “Usahaku sia-sia”, atau “Aku memang begini dari awal.”
Kalimat-kalimat itu bukan tanda tawadhu, melainkan prasangka buruk kepada kasih sayang Allah.

Husnuzan kepada Allah bukan berarti hidup tanpa rasa takut. Ia adalah takut yang menumbuhkan harap, dan harap yang mendorong langkah. Takut yang membuat kita bangkit lagi, bukan menjauh.

Maka jika hari ini ibadah terasa berat, mungkin yang perlu dibenahi bukan jadwal amal, tetapi cara kita mengenal Rabb kita sendiri.

Karena Allah tidak pernah berubah.
Yang sering berubah—adalah prasangka kita kepada-Nya. (*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Saat Ibadah Terasa Berat, Mungkin Bukan Imannya yang Lemah

Iklan