Suluah.id - Selama ini, banyak orang membayangkan sosok orang saleh sebagai pribadi yang tenang, rajin beribadah, tekun berzikir, dan khusyuk dalam ritual-ritual keagamaan. Ia tampak “bersih” secara personal, tetapi sering kali absen dari hiruk-pikuk persoalan sosial.
Pandangan ini terasa nyaman—namun sayangnya, tidak sepenuhnya tepat.
Al-Qur’an justru menawarkan gambaran yang jauh lebih aktif, progresif, dan berdaya ubah tentang siapa itu orang saleh.
Al-Qur’an justru menawarkan gambaran yang jauh lebih aktif, progresif, dan berdaya ubah tentang siapa itu orang saleh.
Salah satu potret paling jelas termaktub dalam QS Ali ‘Imran ayat 114:
“Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera dalam berbagai kebajikan. Mereka itulah orang-orang saleh.”
“Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera dalam berbagai kebajikan. Mereka itulah orang-orang saleh.”
Ayat ini bukan sekadar pujian, melainkan definisi. Definisi yang menggugah, bahkan bisa jadi mengoreksi cara pandang kita selama ini.
Iman yang Hidup, Bukan Sekadar Keyakinan
Ciri pertama orang saleh, menurut ayat ini, adalah iman yang hidup. Bukan iman yang berhenti di kepala, apalagi sekadar identitas di kartu tanda penduduk. Iman itu menancap di hati dan memengaruhi cara seseorang memandang hidup.
Keimanan kepada Allah dan Hari Akhir membuat seseorang selalu sadar arah. Setiap keputusan diambil dengan kesadaran bahwa hidup tidak berhenti di dunia. Ada pertanggungjawaban, ada nilai, ada makna.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, iman seperti ini melahirkan kesadaran etis—bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, memiliki konsekuensi moral dan spiridalam
Saleh yang Peduli, Bukan Acuh Tak Acuh
Menariknya, Al-Qur’an tidak berhenti pada iman. Ayat ini langsung melanjutkan dengan aksi: amar makruf dan nahi munkar.
Artinya, orang saleh tidak tahan melihat ketimpangan, tidak nyaman menyaksikan keburukan dibiarkan, dan tidak rela kebaikan diabaikan. Kepedulian sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kesalehannya.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa amar makruf nahi munkar adalah “jantung kehidupan sosial umat.” Tanpanya, kebaikan akan melemah dan keburukan akan menjadi kebiasaan.
Orang saleh bukan penghakim, tetapi penggerak perbaikan. Ia menasihati dengan empati, menegur dengan hikmah, dan bertindak dengan niat memperbaiki, bukan menghakimi.
Bergerak, Mengonsolidasikan, dan Membangun
Lebih jauh, ayat ini menggambarkan pribadi yang aktif mengonsolidasikan kebaikan. Ia tidak berjalan sendiri. Ia mengajak, membina, dan menyiapkan generasi penerus.
Dalam konteks hari ini, sikap ini bisa hadir dalam banyak wajah:
Guru yang mendidik dengan nilai
Jurnalis yang menulis dengan nurani
Pejabat yang menggunakan jabatan untuk pelayanan
Pengusaha yang jujur dan berkeadilan
Aktivis yang konsisten membela kemanusiaan
Semua ruang adalah ruang dakwah.
Semua profesi bisa menjadi ladang ishlah—perbaikan yang berdampak nyata.
Data dari World Giving Index bahkan menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kepedulian sosial tinggi cenderung memiliki ketahanan sosial yang lebih kuat. Nilai-nilai agama yang diterjemahkan ke dalam aksi sosial terbukti memperkuat solidaritas.
Data dari World Giving Index bahkan menunjukkan bahwa masyarakat dengan tingkat kepedulian sosial tinggi cenderung memiliki ketahanan sosial yang lebih kuat. Nilai-nilai agama yang diterjemahkan ke dalam aksi sosial terbukti memperkuat solidaritas.
Bergegas dalam Kebaikan, Karena Waktu Tak Pernah Menunggu
Satu frasa kunci dalam ayat ini adalah “yusāri‘ūna fil khairāt”—bersegera dalam kebaikan. Bukan menunda, bukan menunggu sempurna, apalagi menunggu orang lain.
Orang saleh sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Kebaikan yang bisa dilakukan hari ini, tak pantas ditunda hingga esok.
Dalam bahasa sederhana: ia cepat tanggap, sigap membaca peluang kebaikan, dan berani bertindak sebelum terlambat.
Kesalehan yang Mengubah Dunia
Dari ayat ini, satu pesan menjadi terang:
Orang saleh bukanlah sosok yang diam.
Ia adalah pribadi yang beriman, peduli, aktif, dan konsisten memperbaiki keadaan—dari lingkaran terkecil hingga ruang sosial yang lebih luas. Kesalehannya tidak hanya terasa di sajadah, tetapi juga berdampak di tengah masyarakat.
Barangkali, inilah saatnya kita memperbarui cara memaknai kesalehan. Bukan sekadar soal hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tentang keberanian hadir dan bertanggung jawab di tengah kehidupan.
Karena, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an, mereka yang demikian itulah—orang-orang saleh.(*)



