Suluah.id - Ada hari-hari ketika masalah datang bertubi-tubi, tetapi hati tetap terasa lapang. Namun, ada pula hari lain yang tampak biasa saja, tapi rasanya berat dan melelahkan. Pernahkah kita bertanya, apa yang membedakan keduanya?
Jawabannya sering kali bukan pada besar-kecilnya masalah, melainkan siapa yang paling sering menemani hari-hari kita. Dengan siapa kita berbagi cerita, tertawa, bahkan mengeluh. Sebab, tanpa disadari, lingkungan terdekat adalah “ruang sunyi” tempat hati dibentuk.
Dalam Islam, persoalan ini mendapat perhatian serius. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seseorang itu tergantung agama sahabat dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Pesan ini sederhana, tetapi tajam: arah hidup kita sangat dipengaruhi oleh lingkaran terdekat.
Sejarah Islam memberi contoh yang nyata. Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sebagai sosok berhati paling lembut, salah satunya karena kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ—bukan hanya secara fisik, tetapi dalam nilai dan visi hidup.
Begitu pula Umar bin Khattab, yang keras sebelum Islam, lalu berubah menjadi pemimpin adil dan tegas setelah berada dalam lingkungan iman yang benar. Lingkaran yang tepat tidak menghilangkan karakter, tetapi memurnikannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tandanya sering terasa sederhana. Ada orang yang setelah kita temui, hati terasa lebih tenang, pikiran jernih, dan iman terjaga.
Ada pula yang justru membuat obrolan dipenuhi prasangka, keluhan tanpa solusi, atau kesibukan membicarakan orang lain. Di titik inilah kejujuran pada diri sendiri diuji: mana pertemanan yang menguatkan, dan mana yang melelahkan?
Para ulama generasi awal sangat peka soal ini. Hasan al-Basri pernah mengingatkan bahwa duduk bersama orang yang salah dapat mematikan hati. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena arah hidup yang tak sejalan. Hati, sebagaimana air jernih, mudah berubah warna oleh wadahnya.
Al-Qur’an bahkan merekam penyesalan mendalam di hari akhir. “Aduhai, celakalah aku, sekiranya dahulu aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekat.” (QS. Al-Furqan: 28). Ayat ini seperti alarm sunyi agar kita belajar sebelum terlambat. Menjaga lingkaran pertemanan bukan berarti menutup diri atau merasa paling benar. Ini soal merawat hati.
Mengurangi yang melelahkan, mendekat pada yang menenangkan. Memberi ruang bagi sahabat yang berani menegur dengan cinta, bukan yang gemar menambah luka dengan drama.
Pada akhirnya, hidup terasa teduh bukan karena banyaknya orang di sekitar kita, melainkan karena tepatnya siapa yang kita izinkan tinggal di hati. Karena siapa yang mengisi harimu, itulah yang perlahan membentuk hatimu.(*)



