Iklan

Ketika Sampah Jadi Sumber Harapan: Jejak Sunyi Farida dari Koto Panjang

27 Februari 2026, 08:50 WIB


Padang Panjang, suluah.id - Pagi di Koto Panjang tak selalu dimulai dengan berita besar. Kadang, ia dimulai dari bunyi gunting yang memotong kemasan plastik bekas minyak goreng di sebuah rumah di Perumahan Gunung Saiyo. Di sanalah Farida bekerja—pelan, tekun, dan penuh keyakinan.

Bagi sebagian orang, sampah adalah akhir. Bagi Farida, itu justru awal cerita.
Sebagai kader lingkungan hidup yang aktif di PKK, Dasawisma, dan Kelompok Wanita Tani, Farida tak sekadar berbicara soal kebersihan. Ia mempraktikkannya. Plastik-plastik bekas yang biasanya berakhir di tempat pembuangan ia jahit ulang menjadi tas belanja kokoh seharga Rp20 ribu.

Motifnya unik, bahannya tahan air, dan yang terpenting—ia menyelamatkan plastik dari kemungkinan mencemari tanah dan sungai.



Masalahnya memang nyata. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, timbunan sampah nasional mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan porsi terbesar berasal dari rumah tangga. Plastik dan sampah organik menjadi penyumbang dominan. Artinya, dapur rumah adalah titik krusial perubahan.

Farida membaca fakta itu dengan cara berbeda. Sisa kulit buah dan sayur ia fermentasi menjadi ECO enzyme—cairan serbaguna yang bisa digunakan sebagai pembersih lantai, pupuk cair, hingga pengurang bau. Produk ini dipasarkan Rp10 ribu untuk 600 ml dan Rp20 ribu untuk 1.500 ml. Murah, ramah lingkungan, dan bernilai guna.




Tak berhenti di sana, ia juga mengajak warga membuat ecobrick—botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-organik. Di tangannya, ecobrick berubah menjadi pot bunga warna-warni yang mempercantik halaman rumah. Dari limbah menjadi lanskap.

Yang menarik, gerakan ini tumbuh tanpa gegap gempita. Tidak ada panggung besar atau kampanye masif. Hanya edukasi dari mulut ke mulut, contoh nyata, dan konsistensi. Perlahan, warga mulai memilah sampah. Anak-anak belajar bahwa plastik tak harus berakhir sebagai beban lingkungan.

Farida percaya perubahan tak selalu menunggu kebijakan besar. Ia dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dari satu rumah, satu botol fermentasi, satu tas belanja.

Bagi yang ingin mengenal atau mendukung gerakan ini, Farida bisa dihubungi melalui Instagram @_farida.mul atau WhatsApp 0852-6461-1302. Rumahnya di Perumahan Gunung Saiyo Padang Reno No.43 RT 18, Koto Panjang, Padang Panjang Timur, terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

Di tengah isu darurat sampah yang kian mendesak, langkah Farida mengajarkan satu hal sederhana: solusi tak selalu lahir dari tempat jauh. Kadang, ia tumbuh dari dapur sendiri—dengan niat baik dan tangan yang tak lelah bekerja. (*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Ketika Sampah Jadi Sumber Harapan: Jejak Sunyi Farida dari Koto Panjang

Iklan