Suluah.id - Suatu pagi, di sudut ruang kantor yang riuh oleh target dan tenggat, Amir—bukan nama sebenarnya—menarik napas panjang. Ia baru saja menolak ajakan rekan kerjanya untuk “sedikit memanipulasi data” demi mengejar capaian bulanan.
Keputusan itu membuatnya kikuk. Ia tahu, langkah itu mungkin memperlambat kariernya. Tapi ada sesuatu yang lebih mahal dari sekadar jabatan: ketenangan hati.
“Beradaptasilah dengan lingkungan, tapi jangan pernah kehilangan jati dirimu.”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Sebuah prinsip sederhana yang sering terdengar klise, namun terasa sangat nyata ketika seseorang dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dalam hidup.
Fleksibel, Tapi Tidak Kehilangan Arah
Hidup modern menuntut kita untuk lentur. Kita berjumpa dengan beragam karakter, budaya, dan nilai—baik di tempat kerja, ruang sosial, maupun dunia digital. Adaptasi menjadi keniscayaan. Namun, tidak semua penyesuaian harus dibayar dengan pengorbanan prinsip.
Dalam Islam, fleksibilitas hidup selalu berjalan beriringan dengan keteguhan nilai. Manusia diajarkan untuk wasathiyah—bersikap seimbang. Tidak kaku, tetapi juga tidak larut.
Al-Qur’an menggambarkan keseimbangan itu dengan metafora alam yang sangat indah:
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui.”
(QS. Ar-Rahman: 19–20)
Ayat ini bukan sekadar kisah alam, tetapi juga cermin kehidupan. Dua laut dapat berdampingan, saling bersentuhan, namun tetap menjaga identitas masing-masing. Tidak bercampur hingga kehilangan sifat dasarnya.
Keteguhan yang Melahirkan Kedamaian
Dalam kehidupan sosial, pesan ini terasa sangat dekat. Kita bisa bekerja di lingkungan yang kompetitif tanpa harus menanggalkan kejujuran. Kita bisa bergaul di tengah perbedaan tanpa harus kehilangan keyakinan. Menghormati bukan berarti mengorbankan iman.
Para ulama dan cendekiawan kerap mengingatkan bahwa hati yang tenang lahir dari keselarasan antara tindakan dan nilai. Ketika seseorang hidup bertentangan dengan prinsipnya sendiri, yang muncul bukan kemajuan, melainkan kegelisahan.
Psikologi modern pun menguatkan hal ini. Individu yang memiliki nilai hidup dan spiritualitas yang kuat cenderung lebih tahan terhadap tekanan, memiliki kontrol diri yang baik, serta tidak mudah terombang-ambing oleh tuntutan lingkungan.
Menjaga Batas, Menjaga Diri
Amir akhirnya tetap melangkah dengan caranya sendiri. Ia mungkin tidak paling cepat naik jabatan, tetapi ia pulang setiap hari tanpa beban di dada. Ia percaya, rezeki tidak pernah tertukar, dan integritas selalu menemukan jalannya.
Di tengah dunia yang terus berubah, menjadi diri sendiri memang tidak selalu mudah. Tetapi justru di sanalah nilai iman bekerja—menjadi batas yang menjaga, bukan penjara yang membatasi.
Seperti dua laut yang bertemu namun tidak melampaui garisnya, kita pun bisa hadir di mana saja, berbaur dengan siapa saja, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai hamba yang berpegang pada nilai.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa jauh kita menyesuaikan diri, melainkan seberapa utuh kita tetap menjadi diri sendiri di hadapan Allah dan nurani.
(*)



