Suluah.id - Setiap kali manusia menengadah ke langit, ada satu kesadaran yang perlahan menyusup ke dalam hati: kita kecil, tetapi tidak berarti lemah. Di balik luasnya angkasa, Allah menitipkan pesan tentang kehidupan—tentang pertumbuhan, harapan, dan keberanian untuk melampaui batas diri.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
(QS. Az-Zariyat: 47)
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
(QS. Az-Zariyat: 47)
Ayat ini bukan sekadar penjelasan tentang penciptaan alam semesta. Ia adalah isyarat spiritual bahwa Islam adalah agama yang menolak penyempitan—baik dalam berpikir, berikhtiar, maupun berharap.
Allah Maha Luas, Mengapa Kita Merasa Terbatas?
Salah satu Asmaul Husna adalah Al-Wâsi’—Yang Maha Luas. Luas rahmat-Nya, luas ilmu-Nya, luas ampunan-Nya, dan luas pula jalan-jalan kebaikan yang dibukakan-Nya bagi hamba-hamba-Nya.
Namun ironisnya, manusia sering kali menyempitkan diri sendiri:
merasa tidak mampu sebelum mencoba,
berhenti melangkah karena takut gagal,
atau mengurung mimpi hanya karena penilaian orang lain.
Padahal, iman sejatinya meluaskan, bukan membatasi. Orang beriman justru dituntut untuk terus bertumbuh—dalam ilmu, amal, dan akhlak.
Belajar dan Bertumbuh Adalah Perintah Iman
Islam sejak awal turun dengan satu kata kunci: Iqra’—bacalah. Ini adalah perintah untuk terus belajar, membuka diri, dan memperluas wawasan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Artinya, berhenti belajar sama dengan berhenti menunaikan sebagian amanah iman.
Dalam perspektif ini, berkembang bukanlah ambisi duniawi semata, melainkan bentuk syukur atas potensi yang Allah titipkan.
Ketakutan Bukan Lawan Iman, Putus Asa-lah Musuhnya
Takut gagal adalah manusiawi. Tetapi putus asa adalah sesuatu yang dilarang. Allah sendiri menegaskan agar hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Sering kali, kegagalan bukanlah tanda Allah menolak usaha kita, melainkan cara-Nya meluaskan kapasitas jiwa. Sebab, iman tidak tumbuh di zona nyaman, tetapi di ruang-ruang ujian.
Amal Kecil, Konsistensi Besar
Bertumbuh tidak harus spektakuler. Islam mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang sedikit namun konsisten.
Maka, memperluas diri bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana:
menambah satu kebiasaan baik setiap pekan,
membaca satu ayat dengan tadabbur,
atau berani mencoba kebaikan yang selama ini ditunda.
Sedikit demi sedikit, hati yang sempit akan dilapangkan.
Jangan Sempitkan Apa yang Allah Luaskan
Langit terus mengembang, tanpa lelah, tanpa ragu. Ia tunduk pada sunnatullah—bertumbuh sesuai kehendak-Nya.
Manusia, sebagai khalifah di bumi, seharusnya mengambil pelajaran yang sama: jangan mengecilkan diri di hadapan Allah Yang Maha Luas.
Jika Allah tidak membatasi rahmat-Nya, jangan batasi harapanmu.
Jika Allah meluaskan langit-Nya, maka luaskanlah iman, ilmu, dan ikhtiarmu.
Karena bertumbuh—dalam iman dan kehidupan—adalah bagian dari ibadah.
(*)



