Suluah.id - Kalimat itu meluncur pelan, namun dampaknya mengguncang sejarah.
“Barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian sesudah tahun ini.”
“Barangkali aku tidak akan berjumpa lagi dengan kalian sesudah tahun ini.”
Bukan suara ratapan, bukan pula nada keputusasaan. Kalimat yang disampaikan Rasulullah ﷺ itu justru terdengar tenang—seolah ingin menyiapkan umatnya menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar: keberlanjutan dakwah tanpa kehadiran sang Nabi.
Sejarawan Islam mencatat, momen itu terjadi dalam Khutbah Wada’, pidato terakhir Nabi di Arafah. Sebuah pesan perpisahan yang bukan sekadar salam pamit, melainkan penyerahan amanah besar. Rasulullah ﷺ seakan menegaskan: risalah ini tidak boleh berhenti pada satu sosok, betapapun agungnya sosok itu.
Di titik inilah umat diuji.
Dakwah Setelah Sang Nabi Tak Lagi Bersama
Selama Nabi ﷺ hidup, umat memiliki rujukan yang nyata. Ketika terjadi persoalan, mereka bisa langsung bertanya, melihat teladan, dan merasakan bimbingan secara langsung. Namun setelah beliau wafat, dakwah harus hidup tanpa kehadiran fisik sang pembawa risalah.
Inilah ujian sesungguhnya. Bukan saat Nabi memimpin di tengah umat, tetapi saat nilai-nilainya harus tetap bernapas di tengah perubahan zaman.
Doa yang sering terucap, “Ya Allah, jangan Engkau halangi kami dari memandang wajah Nabi-Mu dan dari syafaatnya kelak di hari kiamat,” sejatinya bukan hanya ungkapan rindu. Ia adalah ikrar kesetiaan—bahwa umat ini berjanji menjaga ajaran Nabi, bukan sekadar mengenangnya.
Tarbiyah: Jantung yang Menghidupkan Dakwah
Dalam perjalanan sejarah Islam, satu hal menjadi penentu keberlanjutan dakwah: tarbiyah—proses pembinaan manusia secara menyeluruh.
Bukan sekadar ceramah, bukan pula sekadar slogan. Tarbiyah bekerja perlahan, membentuk karakter, menumbuhkan kesadaran, dan menyiapkan generasi sebelum mereka memikul peran.
Tokoh pembaru Islam abad ke-20, Hasan Al Banna, pernah mengingatkan dengan kalimat yang tajam namun jujur:
“Sesungguhnya dakwah ini adalah dakwah tarbiyah sebelum menjadi dakwah politik, dakwah akhlak sebelum menjadi dakwah slogan.”
Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Di tengah era media sosial, ketika dakwah sering diukur dari viralitas dan keramaian, Al Banna mengingatkan bahwa yang menjaga dakwah tetap hidup bukanlah sorak-sorai, melainkan kualitas manusia yang dibina dengan sabar.
Al-Qur’an dan Perintah Melahirkan Generasi
Arah ini sejalan dengan Al-Qur’an. Allah berfirman:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
(QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini sering dikutip sebagai perintah berdakwah. Namun lebih dari itu, ia adalah perintah membangun barisan, melahirkan generasi yang saling menggantikan. Dakwah bukan kerja satu orang, bukan pula tugas satu masa.
Kesabaran yang Sering Dilupakan
Masalahnya, tidak semua orang sabar menempuh jalan panjang ini.
Cendekiawan dan pemikir Islam, Sayyid Qutb, menulis dengan nada reflektif:
“Sesungguhnya dakwah ini memerlukan jiwa-jiwa yang sabar, yang siap memikul beban panjang, tanpa tergesa-gesa memetik hasil.”
Banyak orang ingin segera melihat hasil: pengikut bertambah, pengaruh meluas, perubahan terjadi cepat. Padahal Rasulullah ﷺ sendiri menghabiskan bertahun-tahun menanam manusia, bukan sekadar mengumpulkan massa.
Dari Air Mata Menuju Tekad
Maka, ketika kita mengenang kalimat perpisahan Nabi ﷺ, biarkan ia lebih dari sekadar cerita yang mengharukan. Jangan berhenti di air mata dan nostalgia.
Biarkan ia berubah menjadi tekad.
Tekad untuk menjaga nilai, merawat tarbiyah, membina manusia, dan memastikan dakwah tetap hidup—meski zaman terus berubah dan tantangan kian kompleks.
Sebab kelak, harapan terbesar umat ini bukan hanya bertemu Rasulullah ﷺ. Tetapi bertemu sebagai umat yang setia menjaga amanahnya.
Dan semoga, saat itu tiba, syafaat beliau memeluk kita—bukan sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai penerus risalah.(*)



