Iklan

Kecewa Itu Bukan Akhir: Saat Hidup Mengajak Kita Berhenti Sejenak

08 Januari 2026, 07:41 WIB


Suluah.id - Ada masa ketika hidup terasa seperti runtuh.
Harapan kandas di tengah jalan.
Orang yang dulu kita percaya berubah arah.
Usaha yang kita rawat dengan sungguh-sungguh tak kunjung berbuah.

Di titik itu, kita sering menyebutnya kekecewaan.

Namun barangkali, hidup tidak sedang runtuh. Ia hanya berhenti sejenak.
Kecewa bukan selalu tentang kegagalan. Kadang, ia adalah jeda—ruang hening yang sengaja dihadirkan agar kita berhenti berlari, duduk sebentar, lalu menatap ulang ke mana sebenarnya kita sedang menuju.

Dalam sunyi itulah, muncul pertanyaan yang jarang kita ajukan: jangan-jangan yang sedang dijeda bukan rezeki atau takdir kita, melainkan hati kita sendiri.

Kecewa Mengajari Kita Membaca Ulang Hidup

Dalam jeda bernama kecewa, pandangan kita menjadi lebih jujur.

Kita mulai sadar, tidak semua orang yang kita sebut teman sanggup berjalan jauh. Tidak semua rencana, sebaik apa pun disusun, akan selalu berakhir sesuai bayangan.

Di sinilah kecewa bekerja secara diam-diam. Ia mengajari kita mengenali batas, menata ekspektasi, dan membaca ulang nilai diri. 

Allah mengingatkan manusia melalui firman-Nya:
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan undangan untuk percaya. Percaya bahwa Allah tahu kapan seseorang perlu “dipatahkan” agar tidak terus melaju di jalan yang keliru.

Belajar dari Luka Para Pendahulu


Rasa kecewa bukan pengalaman eksklusif manusia hari ini. Para sahabat Nabi pun pernah duduk di ruang yang sama.

Kekalahan dalam Perang Uhud bukan hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menjadi titik balik kedewasaan iman. Mereka belajar bahwa ketaatan dan kesabaran bukan jargon, melainkan pilihan berat saat hasil tak sesuai harapan.

Jejak pembelajaran itu juga terlihat pada generasi setelahnya. Ulama besar tabi’in, Hasan al-Basri, pernah berkata, Jika Allah menguji seorang hamba dengan kesempitan, lalu ia bersabar, Allah akan melapangkan hatinya dengan makrifat.”

Lapang, dalam pandangan ini, tidak selalu berarti jalan mulus. Kadang, lapang berarti paham—mengerti apa yang sedang Allah kehendaki.

Dalam hidup modern, kecewa sering hadir lewat hal-hal sederhana: janji yang tak ditepati, kerja keras yang tak dihargai, atau kebaikan yang dibalas dingin—air susu dibalas air tuba.

Namun Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan kalimat yang menenangkan:
Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya.”
(HR. Shahih Muslim)

Kalimat ini menggeser fokus kita. Bukan lagi “mengapa aku kecewa”, melainkan “apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui rasa kecewa ini.”

Saat Harapan Diputus, Agar Hati Kembali Pulang


Seorang sufi besar, Ibn Athaillah, pernah menasihati, “Jangan heran jika Allah memutus sebagian harapanmu, agar hatimu kembali berharap kepada-Nya.”

Maka ketika kecewa kembali mengetuk pintu hidup, barangkali kita tak perlu buru-buru menolaknya. Biarkan ia duduk sebentar. Sebab bisa jadi, ia datang bukan untuk melukai, melainkan untuk merapikan sandaran hati—mengembalikan fokus yang sempat berpindah terlalu jauh dari Allah.

Tidak semua yang pergi adalah kehilangan.
Sebagiannya justru jalan pulang.

Dan ketika kecewa itu akhirnya berlalu, semoga yang tertinggal bukan kepahitan, melainkan kejernihan. Kesadaran bahwa kita pernah berada dalam gelap agar kini lebih mengerti betapa berharganya cahaya hidayah.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Kecewa Itu Bukan Akhir: Saat Hidup Mengajak Kita Berhenti Sejenak

Iklan