Suluah.id - Di tengah derasnya arus informasi, dakwah sering kali terdengar nyaring—namun tak selalu sampai ke hati. Mimbar-mimbar ramai, media sosial penuh potongan ceramah, tetapi perubahan yang diharapkan tak selalu hadir. Di titik inilah pertanyaan penting muncul: ke mana arah dakwah kita?
Dakwah sejatinya bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan mengarahkan, menggugah, dan mengubah. Tiga kata kunci ini menjadi fondasi dakwah yang hidup—bukan hanya terdengar, tetapi juga membekas.
Terarah: Dakwah yang Tahu Tujuan
Dakwah bukan aktivitas spontan tanpa kompas. Ia membutuhkan arah, sasaran, dan metode yang jelas. Al-Qur’an menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan dengan pendekatan yang tepat, tidak serampangan apalagi memaksa.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik...”
(QS. An-Nahl: 125) — Al-Qur’an
Ayat ini kerap dikutip, namun esensinya sering luput: hikmah berarti memahami konteks, kondisi psikologis, dan realitas sosial audiens. Dakwah kepada remaja tentu berbeda dengan dakwah kepada orang tua. Dakwah di ruang digital tak bisa disamakan dengan dakwah di masjid kampung.
Menurut para ulama dan pakar komunikasi dakwah, pesan yang baik sekalipun bisa gagal bila disampaikan dengan cara yang keliru. Karena itu, dakwah yang terarah selalu diawali dengan pertanyaan sederhana namun mendasar: siapa yang diajak bicara, dan apa yang mereka butuhkan?
Menggugah: Menyentuh Hati, Bukan Menghakimi
Dakwah tidak berhenti pada penyampaian dalil. Ia harus mampu menyentuh sisi terdalam manusia—rasa takut, harap, luka, dan kerinduan untuk menjadi lebih baik.
Inilah teladan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam banyak riwayat sahih, Rasulullah dikenal bukan sebagai pendakwah yang keras, melainkan sosok yang penuh empati. Bahkan, beliau pernah menangis dalam doa dan dakwahnya—bukan karena kelemahan, tetapi karena cinta dan kepedulian kepada umatnya.
Pendekatan yang lembut dan manusiawi inilah yang membuat dakwah terasa dekat. Bahasa yang menghakimi justru menjauhkan, sementara bahasa yang empatik membuka pintu kesadaran. Dalam konteks kekinian, dakwah yang menggugah adalah dakwah yang mendengar sebelum berbicara, memahami sebelum menasihati.
Mengubah: Dari Kata ke Perbuatan
Tujuan akhir dakwah bukanlah tepuk tangan atau viral di media sosial, melainkan perubahan nyata—pada akhlak, cara berpikir, dan tindakan.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa perubahan sejati dimulai dari dalam diri manusia itu sendiri:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11) — Al-Qur’an
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mendorong refleksi, bukan sekadar reaksi. Ia menumbuhkan kesadaran untuk berubah, bukan ketakutan sesaat.
Dalam sejarah Islam, dakwah Rasulullah tidak hanya melahirkan individu yang saleh secara ritual, tetapi juga masyarakat yang beradab, adil, dan peduli. Inilah bukti bahwa dakwah yang benar selalu meninggalkan jejak sosial—bukan hanya kesalehan personal.
Dakwah sebagai Rahmat
Dakwah yang terarah akan tepat sasaran. Dakwah yang menggugah akan menyentuh hati. Dan dakwah yang mengubah akan melahirkan amal nyata. Ketika ketiganya berjalan beriringan, dakwah tak lagi menjadi beban, melainkan rahmat—sebagaimana Islam dihadirkan untuk semesta.
Di tengah dunia yang kian bising, dakwah yang menenangkan, mencerahkan, dan membumi justru semakin dibutuhkan. Bukan dakwah yang merasa paling benar, melainkan dakwah yang mengajak berjalan bersama menuju kebaikan.
(*)



