Suluah.id - Pernahkah Anda menyesal menjual saham terlalu cepat, atau membeli karena takut ketinggalan? Menurut Daniel Kahneman, peraih Nobel dan penulis buku Thinking, Fast and Slow, keputusan finansial kita sering dikendalikan oleh jalan pintas mental yang tidak kita sadari. Kabar baiknya, bias-bias ini bisa dikenali dan dijinakkan.
Dua Sistem di Balik Setiap Keputusan
Otak kita bekerja dengan dua sistem. System 1 bersifat cepat dan intuitif, bekerja otomatis tanpa banyak usaha. System 2 lebih lambat dan analitis, hanya aktif ketika dibutuhkan, tetapi jauh lebih jarang salah.
Karena System 1 paling sering kita gunakan, ia menjadi sumber sebagian besar keputusan harian sekaligus kerentanan terhadap bias.
Bagaimana System 1 Mengecoh Kita
- WYSIATI (What You See Is All There Is). Kita hanya menimbang informasi yang tersedia di depan mata dan mengabaikan sisi lain cerita.
- Priming effect. Rangsangan yang kita terima secara tak sadar memengaruhi respons berikutnya. Musik Prancis di toko anggur, misalnya, membuat pembeli lebih condong memilih anggur Prancis.
- Recency bias. Kita memberi bobot berlebih pada peristiwa terbaru, salah satu penyebab pasar bergerak dalam siklus euforia dan kepanikan.
Anchoring effect. Harga pertama yang kita lihat menjadi patokan. Jika pertama kali mengenal saham Apple di harga 150 dolar AS, harga di bawah itu terasa murah dan di atasnya terasa mahal, padahal nilai wajar tidak ditentukan oleh angka awal tersebut.
Hindsight bias. Setelah pasar naik, kita merasa "sudah tahu" hal itu akan terjadi. Padahal dari sekian banyak kemungkinan, hanya satu yang terwujud. Bahayanya, kita jadi mengambil risiko berlebihan dan mengejar kenaikan harga karena takut ketinggalan (fear of missing out).
Loss aversion. Rasa sakit kehilangan lebih kuat daripada kebahagiaan memperoleh. Kehilangan 50 dolar terasa lebih perih dibanding kegembiraan menang 50 dolar, sehingga investor kerap menahan saham rugi terlalu lama atau menjual saham untung terlalu cepat.
Cara Melawan Bias
Kahneman menekankan bahwa pertahanan terbaik adalah sistem, bukan kemauan semata:
- Sistematisasi proses. Gunakan checklist untuk meriset, menilai, dan memilih saham.
- Kenali emosi. Saat sebuah topik terasa emosional, penilaian kita menjadi kabur. Tanyakan: apakah reaksi ini beralasan atau berlebihan?
- Perlambat langkah. Mundur sejenak dan biarkan System 2 bekerja sebelum mengambil keputusan.


