Iklan

"We Are Going": Bagaimana Sebuah Puisi Menjadi Suara Bangsa yang Menolak Lenyap

02 Oktober 2026, 15:11 WIB
 
Source https://share.google/KX8Jz0erWceHKteOY



Oleh: Salsabilla Dinillah 
NIM:2510732015
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang, Indonesia.


Suluah.id - Pada tahun 1964, Oodgeroo Noonuccal, yang saat itu masih menggunakan nama Kath Walker, menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, We Are Going, melalui Jacaranda Press di Australia sebagai buku setebal sekitar 43 halaman berisi 29 puisi yang menjadi kumpulan puisi pertama yang diterbitkan oleh penulis Aborigin Australia. 

Puisi berjudul sama, "We Are Going", menjadi karya yang paling sering dibicarakan, diajarkan, dan dikutip, karena ditulis di tengah keterlibatannya dalam gerakan hak-hak Aborigin saat ia aktif berkampanye dan berbicara di depan publik demi hak masyarakat adat di seluruh Australia. 

Mengapa penting? Sebab puisi ini bukan sekadar ratapan atas hilangnya tanah, melainkan pengingat sekaligus peringatan bahwa orang Aborigin masih ada dan tidak akan memudar begitu saja dalam sejarah versi pihak lain.

Pada bagian pembuka puisi "We Are Going" (1964), sekelompok kecil orang Aborigin yang disebut sebagai sisa terakhir sukunya berjalan kembali ke sebuah kota kecil menuju bora ground, yaitu tempat upacara sakral yang dulu menjadi tanah mereka.

Namun, tempat itu kini dipenuhi pemukim kulit putih yang "hurrying about like ants" dan sebuah papan dari agen properti yang membolehkan sampah dibuang di sana, sehingga jejak terakhir lingkaran upacara perlahan terkubur. Gambaran yang keras ini sengaja dipilih untuk membuka puisi karena langsung menetapkan nada emosional seluruh bagian berikutnya.

Selanjutnya, Oodgeroo Noonuccal membangun bagian terkuat puisi dengan mengulang kata "We are..." di awal baris demi baris, dan memakai "we" alih-alih "I" agar suara yang berbicara menjadi suara kolektif satu bangsa lintas generasi. Para penutur mengidentifikasikan diri dengan corroboree, hukum para tetua, kisah Dream Time, dan legenda suku, bahkan dengan kilat di atas Gaphembah Hill, guntur, serta fajar di atas laguna. Dengan cara ini, identitas Aborigin dipersatukan dengan tanah dan alam, sehingga budaya mereka hidup dan tidak bisa dipisahkan dari dunia fisik di sekitarnya.

Tepat setelah gambaran yang kaya itu terbangun, nada puisi berbalik menjadi sedih dan pasrah ketika semua yang tadi dirayakan dinyatakan "gone", mulai dari semak belukar, tanah perburuan, elang, emu, kanguru, sampai bora ring dan corroboree. 

Puisi kemudian ditutup dengan baris judulnya, saat suara kolektif itu mengakui bahwa mereka sendirilah yang kini "going" karena terusir dari tanah yang tadi mereka akui sebagai bagian dari diri mereka. 

Di tengah bagian ini, penyair menyelipkan sindiran bahwa pemukim kulit putihlah yang sebenarnya "strangers" di tanah itu, sebuah baris yang membalik narasi kolonial dan karena itu sering dikutip dalam esai dan perkuliahan.

Pada tahun 1988, Kath Walker secara sengaja mengganti namanya menjadi Oodgeroo Noonuccal sebagai bentuk protes terhadap perayaan Bicentenary Australia yang memperingati 200 tahun dimulainya kolonisasi Inggris. "Oodgeroo" adalah kata Aborigin untuk pohon paperbark, sedangkan "Noonuccal" berasal dari nama suku asalnya di Pulau Stradbroke, lepas pantai Queensland. Karena ia sudah bertahun-tahun menjadi aktivis hak-hak Aborigin sebelum dikenal sebagai penyair, puisinya sering terbaca seperti pidato politik sekaligus karya sastra, dan kedua sisi itu hampir tidak bisa dipisahkan dalam karyanya.

Seiring waktu, "We Are Going" juga menuai kritik, sebab sebagian kritikus sastra menilai puisi ini terlalu menonjolkan pesan politik hingga mengorbankan kualitas puitisnya, sehingga lebih mirip pernyataan protes berbalut puisi daripada puisi yang "layak" menurut standar sastra tradisional. 

Namun, kritik itu tidak banyak merusak reputasinya, karena puisi ini justru terus dipuji atas kelugasannya, aliran liriknya, dan cara jujurnya menyampaikan pesan tanpa terkubur bahasa yang rumit. Bahkan lebih dari dua puluh tahun setelah terbit, Oodgeroo masih membacakannya di depan penonton, dan rekaman penampilannya di Harold Park Hotel, Sydney, pada tahun 1986 disambut tepuk tangan yang meriah.

Hingga kini, "We Are Going" dianggap sebagai salah satu titik awal bangkitnya kesadaran politik dan sastra di kalangan orang Aborigin Australia. Puisi ini terus diajarkan, dikaji, dan dirujuk dalam diskusi sastra poskolonial, tidak hanya di Australia tetapi juga di berbagai negara lain, karena pesannya tetap tajam dan relevan puluhan tahun setelah ditulis.

Source : https://share.google/AdpbEVqldTtou1oNw



We Are Going adalah kumpulan puisi karya penulis Australia Oodgeroo Noonuccal. Itu diterbitkan oleh Jacaranda Press pada tahun 1964. Koleksinya mencakup 29 puisi karya penulis, dari berbagai sumber asli. Ini adalah kumpulan puisi pertama karya Oodgeroo Noonuccal. (*)

Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • "We Are Going": Bagaimana Sebuah Puisi Menjadi Suara Bangsa yang Menolak Lenyap

Iklan