Suluah.id - Bayangkan Anda menemukan sebuah rumah dijual Rp500 juta, padahal menurut perhitungan Anda nilainya Rp750 juta. Menarik, bukan? Namun, sebelum membeli, Anda tentu ingin tahu mengapa rumah itu dijual murah. Apakah pemiliknya sedang butuh uang, atau ternyata atapnya bocor, fondasinya bermasalah, dan lokasinya kurang menarik?
Logika serupa berlaku di pasar saham. Harga saham murah belum tentu berarti valuasinya murah. Inilah salah satu prinsip penting dalam value investing: mencari perusahaan yang harga pasarnya berada di bawah estimasi nilai wajarnya, dengan tetap memastikan bisnisnya memang berkualitas.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa analisis fundamental pada dasarnya digunakan untuk menilai kondisi fundamental perusahaan sekaligus memperkirakan harga wajarnya.
Investor idealnya mencari saham dengan fundamental baik pada harga wajar atau di bawah nilai wajarnya.
Bagaimana membedakan saham murah dan saham bernilai?
Jangan berhenti pada angka PER atau PBV. Investor perlu melihat bisnis secara lebih utuh:- Pendapatan dan laba: apakah tumbuh secara konsisten?
- Arus kas: apakah laba benar-benar menghasilkan kas?
- Utang: apakah masih sehat dan mampu dibayar?
- ROE: seberapa efisien perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal pemegang saham?
- Prospek bisnis: apakah industrinya masih punya ruang tumbuh?
- Manajemen: apakah rekam jejak pengelola perusahaan dapat dipercaya?
- Valuasi sektor: apakah saham memang murah dibandingkan perusahaan sejenis?
Konsep intrinsic value juga menjadi fondasi penting dalam pendekatan investasi nilai. Warren Buffett menjelaskan bahwa nilai intrinsik merupakan estimasi nilai ekonomi bisnis berdasarkan kemampuan menghasilkan kas di masa depan, sehingga nilainya bukan angka yang selalu pasti.
Waspadai jebakan value trap
Masalahnya, saham dengan PER atau PBV rendah bisa saja murah karena pasar sedang mengantisipasi penurunan kinerja, utang besar, industri yang tertekan, atau prospek bisnis yang memburuk.
Karena itu, margin of safety penting. Misalnya harga saham Rp1.000 sementara estimasi nilai wajarnya Rp1.500. Selisih tersebut memberikan ruang pengaman apabila perhitungan kita ternyata tidak sepenuhnya tepat.
Di tengah pasar yang volatil, prinsip ini semakin relevan. OJK mencatat IHSG mengalami tekanan besar hingga Mei 2026, sementara likuiditas pasar tetap terjaga.
Kesimpulannya: jangan membeli saham hanya karena terlihat murah. Tanyakan terlebih dahulu: “Murah dibandingkan apa, dan mengapa pasar menjualnya semurah itu?”
Itulah esensi value investing—bukan berburu harga terendah, tetapi mencari bisnis berkualitas dengan harga yang masuk akal.
Semakin baik literasi fundamental Anda, semakin kecil kemungkinan berubah dari value investor menjadi “investor nyangkut”. (*)


