Iklan

Jangan Terjebak NAB Murah, Ini Cara Memilih Reksa Dana dengan Benar

20 Agustus 2026, 10:01 WIB


Suluah.id - Awalnya membeli reksa dana mungkin terasa sederhana: pilih produk, masukkan uang, lalu tunggu nilainya berkembang. 

Namun setelah mulai serius, investor akan berhadapan dengan istilah seperti NAB, AUM, expense ratio, return, dan drawdown. Memahami istilah tersebut penting agar keputusan investasi tidak hanya berdasarkan angka keuntungan yang terlihat paling tinggi.

Prinsip sederhananya: jangan hanya bertanya “berapa untungnya?”, tetapi juga “uang saya dikelola ke mana dan seberapa besar risikonya?”

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan bahwa reksa dana memiliki karakter risiko berbeda. Reksa Dana Pasar Uang secara umum memiliki risiko paling rendah, sedangkan Reksa Dana Pendapatan Tetap memiliki risiko lebih tinggi karena nilai portofolionya dapat dipengaruhi perubahan harga obligasi. 

Lima angka yang wajib dipahami


1. NAB/NAV: jangan cari yang paling kecil

NAB per unit adalah nilai setiap unit reksa dana. NAB Rp1.000 bukan berarti lebih murah daripada NAB Rp5.000. Bahkan NAB awal reksa dana memang ditetapkan Rp1.000 per unit. 

Nilai ideal: tidak ada. Fokus pada kinerja, portofolio, dan konsistensi pengelolaannya.

2. AUM: besar boleh, tetapi bukan jaminan


AUM menunjukkan total dana yang dikelola. AUM besar dapat menjadi salah satu indikator bahwa produk cukup dipercaya investor, tetapi bukan ukuran kualitas tunggal.

Patokan praktis: bandingkan AUM dengan produk sejenis, bukan sekadar mencari yang terbesar.

3. Expense Ratio: semakin efisien semakin menarik


Ini menggambarkan biaya pengelolaan dan operasional. Tidak ada angka “sakral”, tetapi untuk dua produk dengan strategi dan kinerja yang mirip, expense ratio lebih rendah biasanya lebih menarik.

Jangan lupa: biaya tersebut sudah diperhitungkan dalam kinerja/NAB, bukan berarti saldo langsung dipotong sebesar persentasenya.

4. Return: lihat konsistensi, bukan angka tertinggi

Return menunjukkan hasil investasi dalam periode tertentu. Jangan menganggap return 8% tahun ini berarti tahun depan pasti 8%.
Patokan praktis: bandingkan return 1 tahun, 3 tahun, dan sejak peluncuran dengan produk sejenis.


5. Drawdown: ukur “sakitnya” saat turun


Drawdown menunjukkan penurunan dari titik tertinggi ke titik terendah berikutnya. Semakin besar drawdown, semakin besar penurunan yang secara historis pernah dialami.

Untuk investor pemula, drawdown yang lebih rendah dengan return yang kompetitif sering kali lebih nyaman daripada mengejar return tertinggi.

Jadi, mana yang dipilih?

Gunakan urutan sederhana:
Tujuan uang → jenis reksa dana → portofolio → return → drawdown → expense ratio → AUM → usia produk → minimum pembelian.

Per akhir Desember 2025, OJK mencatat AUM industri pengelolaan investasi mencapai Rp1.033,81 triliun dan NAB reksa dana Rp675,32 triliun. Ini menunjukkan besarnya ekosistem reksa dana Indonesia. 

Kesimpulannya, tidak ada NAB, AUM, expense ratio, drawdown, atau return yang otomatis “paling ideal”. Angka tersebut harus dibaca bersama dan disesuaikan dengan tujuan serta toleransi risiko.

Literasi investasi bukan soal menemukan produk paling cuan, tetapi memahami mengapa kita membelinya, ke mana uang ditempatkan, dan seberapa besar risiko yang sanggup kita terima.(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Jangan Terjebak NAB Murah, Ini Cara Memilih Reksa Dana dengan Benar

Iklan