
Suluah.id - Banyak investor pemula berpikir tantangan terbesar di pasar saham adalah menemukan emiten yang bagus. Padahal, masalah yang lebih sering terjadi justru muncul setelah membeli saham: berapa banyak modal yang harus masuk di pembelian pertama? dan apa yang dilakukan jika harga masih turun?
Di sinilah pentingnya memiliki strategi pembagian modal atau position sizing. Salah satu pendekatan yang banyak digunakan trader dan investor adalah Skema ABC, yaitu metode mengatur porsi pembelian secara bertahap berdasarkan kombinasi momentum, peluang, dan risiko.
Strategi ini membantu investor mengendalikan emosi sekaligus mengurangi risiko membeli terlalu banyak di harga yang belum tentu menjadi titik terendah.
Jangan Hanya Cari Saham Murah, Nilai Dulu Tiga Faktor Ini
Sebelum menentukan jumlah pembelian, investor sebaiknya mengevaluasi tiga aspek utama.- Momentum: Apakah ada katalis yang akan datang, seperti musim dividen atau rilis laporan keuangan?
- Peluang (Upside): Seberapa besar potensi kenaikan harga jika sentimen positif terealisasi?
- Risiko (Downside): Jika harga kembali turun, apakah masih dalam batas yang masuk akal untuk melakukan average down?
Pendekatan ini membuat keputusan investasi tidak sekadar mengikuti harga murah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas peluang yang tersedia.
Mengenal Skema ABC dalam Mengatur Porsi Pembelian
1. Skema A: Aggressive (1/3 – 1/3 – 1/3)Strategi ini cocok ketika keyakinan terhadap saham sangat tinggi.
Karakteristiknya meliputi:
- Momentum positif sudah dekat.
- Prospek kinerja perusahaan kuat.
- Risiko relatif rendah karena valuasi masih menarik.
2. Skema B: Balanced (1/4 – 1/4 – 2/4)
Ini merupakan pilihan paling fleksibel bagi investor.
Skema ini sesuai untuk emiten dengan fundamental yang sehat, valuasi tidak mahal, dan memiliki peluang pertumbuhan laba. Contohnya antara lain AKRA, ERAA, GJTL, ICBP, PWON, maupun SMDR.
Porsi terbesar ditempatkan pada pembelian terakhir sehingga investor masih memiliki cadangan dana jika koreksi berlanjut.
3. Skema C: Conservative (1/6 – 2/6 – 3/6)
Strategi konservatif digunakan ketika peluang rebound masih ada, tetapi tingkat ketidakpastian juga tinggi.
Biasanya diterapkan pada saham dengan fundamental kurang kuat atau emiten yang dikenal memiliki volatilitas tinggi. Tujuan utamanya bukan mengejar keuntungan maksimal, melainkan mengelola risiko sehingga harga rata-rata kepemilikan menjadi lebih rendah apabila terjadi penurunan lanjutan.
Kapan Menggunakan Masing-Masing Skema?
Panduan sederhananya adalah:- Skema A dipilih ketika peluang besar dan risiko kecil.
- Skema B digunakan saat fundamental perusahaan baik, tetapi investor tetap ingin menjaga fleksibilitas modal.
- Skema C menjadi pilihan ketika risiko tinggi sehingga perlindungan modal harus menjadi prioritas.
Disiplin Lebih Penting daripada Menebak Harga Terendah
Dalam investasi saham, tidak ada yang mampu memastikan di mana titik terendah harga. Yang bisa dikendalikan adalah cara mengelola modal dan risiko.Dengan menerapkan Skema ABC, investor memiliki rencana yang jelas sebelum masuk ke pasar, sehingga keputusan tidak didorong oleh rasa takut atau serakah. Pada akhirnya, keberhasilan investasi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan memilih saham yang tepat, tetapi juga oleh disiplin dalam mengatur porsi pembelian dan manajemen risiko.
Tingkatkan literasi keuangan Anda dengan mempelajari analisis fundamental, valuasi, dan manajemen risiko secara menyeluruh. Strategi yang baik selalu dimulai dari keputusan yang terencana, bukan dari spekulasi.(*)

