Suluah.id - Bayangkan sebuah konser musik. Sebelum acara dimulai, ribuan orang berebut tiket. Harga tiket di pasar sekunder bisa melonjak berkali-kali lipat, bukan karena kualitas kursinya berubah, tetapi karena banyak orang ingin membelinya. Namun setelah konser selesai, tiket itu hampir tak lagi bernilai.
Kurang lebih seperti itulah cara harga saham bergerak. Dalam jangka pendek, harga lebih banyak dipengaruhi oleh minat beli dan sentimen pasar. Namun dalam jangka panjang, harga akan kembali mencerminkan kualitas bisnis perusahaan.
Konsep ini pernah dijelaskan oleh Benjamin Graham, investor legendaris sekaligus mentor Warren Buffett.
"In the short run, the market is a voting machine. But in the long run, it is a weighing machine."
Artinya, pasar saham dalam jangka pendek adalah ajang "pemungutan suara", sedangkan dalam jangka panjang menjadi "mesin penimbang" nilai sebenarnya.Jangka Pendek: Harga Bergerak karena Likuiditas dan Sentimen
Pada periode harian hingga beberapa bulan, harga saham sering kali lebih dipengaruhi oleh dua faktor utama:- Likuiditas, yaitu banyaknya dana yang masuk ke suatu saham.
- Sentimen, seperti aksi korporasi, berita positif, prospek industri, hingga optimisme investor.
Dalam kondisi seperti ini, rasio Price to Earnings (PER) atau Price to Book Value (PBV) sering kali bukan pertimbangan utama pelaku pasar. Ketika uang terus mengalir dan narasi positif berkembang, harga saham dapat naik jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan kinerja perusahaan.
Fenomena ini kerap terlihat ketika terjadi stock split, akuisisi, ekspansi bisnis, atau sektor tertentu sedang menjadi perhatian investor.
Jangka Panjang: Fundamental Selalu Mengejar Harga
Euforia tidak berlangsung selamanya. Saat sentimen mulai mereda dan laporan keuangan dipublikasikan, investor kembali menilai kualitas bisnis perusahaan. Di sinilah valuasi mulai memainkan peran utama.Jika laba, arus kas, dan pertumbuhan perusahaan tidak mampu memenuhi ekspektasi pasar, harga saham biasanya mengalami mean reversion, yaitu kembali mendekati nilai intrinsiknya.
Prinsip inilah yang menjadi dasar investasi jangka panjang ala Benjamin Graham maupun Warren Buffett.
Momentum Trader vs Value Investor
Meski sama-sama mencari keuntungan, kedua pendekatan ini memiliki cara berpikir yang berbeda.1. Momentum Trader
- Mencari saham yang sedang menjadi perhatian pasar.
- Fokus pada tren harga, volume transaksi, dan sentimen.
- Target keuntungan relatif cepat.
2. Value Investor
- Menunggu harga saham berada di bawah nilai wajarnya.
- Fokus pada fundamental perusahaan dan prospek jangka panjang.
- Bersedia menunggu hingga pasar menghargai nilai sebenarnya.
Kedua strategi tersebut sama-sama valid selama dijalankan secara konsisten.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Masalah terbesar bukan memilih strategi, melainkan mencampurkan keduanya.Tidak sedikit investor membeli saham karena momentum. Namun ketika tren berbalik dan harga turun, mereka enggan menjual. Alih-alih disiplin menjalankan rencana, mereka tiba-tiba mengaku menjadi value investor hanya untuk menghindari keputusan cut loss.
Perubahan strategi yang dilakukan karena emosi sering menjadi penyebab utama kerugian di pasar saham.
Pelajaran Penting bagi Investor Pemula
Sebelum membeli saham, tanyakan satu hal sederhana kepada diri sendiri:Apakah saya membeli karena momentum atau karena valuasi?
Jika jawabannya momentum, maka disiplinlah keluar ketika momentum melemah. Jika jawabannya valuasi, siapkan kesabaran hingga fundamental perusahaan benar-benar tercermin dalam harga.
Memahami perbedaan ini akan membantu investor mengambil keputusan lebih rasional, mengurangi bias psikologis, dan membangun portofolio yang lebih sehat dalam jangka panjang.
(*)


