Iklan

Saham yang Sudah Terbang Tinggi! Peluang Profit atau Jebakan?

03 Mei 2026, 18:49 WIB



Suluah.id - Pasar saham sering terlihat seperti pesta besar. Grafik naik tajam, grup investasi ramai, dan notifikasi aplikasi trading penuh warna hijau. Bagi investor pemula, momen ini terasa seperti kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.

Namun pertanyaannya sederhana: ketika kamu membeli saham yang sudah melonjak tinggi, apakah kamu datang saat pesta dimulai… atau justru saat pesta hampir selesai?

Artikel ini penting dibaca agar investor tidak terjebak fenomena chasing the rally—kebiasaan membeli saham hanya karena sedang naik.

Ketika Harga Naik Tinggi, Siapa yang Sudah Masuk Lebih Dulu?


Dalam banyak kasus di pasar modal Indonesia maupun global, lonjakan harga saham ekstrem tidak selalu mencerminkan pertumbuhan bisnis perusahaan.

Contoh nyata terlihat pada berbagai saham gorengan periode 2020–2023 di Bursa Efek Indonesia, ketika harga melonjak ratusan persen sebelum akhirnya terkoreksi tajam. Data BEI menunjukkan sebagian besar investor ritel justru membeli di fase akhir kenaikan.

Fenomena ini dikenal sebagai information asymmetry — kondisi ketika pelaku besar (smart money) sudah mengumpulkan saham di harga murah jauh sebelum berita positif muncul ke publik.

Ketika laporan keuangan bagus atau aksi korporasi diumumkan, harga sering sudah naik lebih dulu.

Analogi sederhananya:
Kamu datang ke konser setelah lagu terakhir dimainkan, tetapi tetap membeli tiket paling mahal.

Waspada “Good News” di Puncak Harga


Banyak investor berpikir berita positif berarti harga akan terus naik. Faktanya, menurut riset perilaku pasar oleh JP Morgan Asset Management, pasar sering bergerak lebih dulu sebelum berita dirilis.
Saat publik baru optimistis, pelaku besar justru mulai melakukan profit taking atau distribusi saham.

Volume transaksi tinggi yang terlihat bukan selalu tanda akumulasi, tetapi bisa menjadi proses keluar diam-diam.

Ilusi Transaksi Besar di Pasar Nego

Transaksi besar di pasar negosiasi kadang terlihat seperti institusi membeli mahal. Padahal, transaksi tersebut bisa berupa crossing internal yang tidak mencerminkan minat beli nyata di pasar reguler.

Investor pemula sering salah membaca sinyal psikologis ini.

Bahaya Mengejar Saham yang Sudah Naik


1. Risk–Reward Tidak Seimbang
Risiko turun bisa 20–30%, sementara potensi naik tinggal sedikit.

2. Greater Fool Theory
Keuntungan hanya terjadi jika ada pembeli yang lebih nekat setelahmu.

3. Kerusakan Mental Trading
Kerugian di pucuk harga sering membuat investor kehilangan disiplin.

Seperti kata investor legendaris Warren Buffett:
Price is what you pay, value is what you get.”
Profesional membeli di area nilai, bukan di area euforia.

Tips Praktis untuk Investor Pemula

  • Jangan beli hanya karena saham trending.
  • Tunggu koreksi sehat atau area support.
  • Fokus pada margin of safety dan fundamental.
  • Gunakan rencana trading sebelum masuk posisi.
Ingat: kehilangan peluang lebih baik daripada kehilangan modal.

Pasar saham bukan lomba cepat masuk, tetapi permainan bertahan lama.
Terus tingkatkan literasi finansial Anda, baca artikel investasi lainnya, dan jadilah investor yang rasional—bukan korban euforia pasar. (*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Saham yang Sudah Terbang Tinggi! Peluang Profit atau Jebakan?

Iklan