Suluah.id - Tahun 2026 berpotensi menjadi bab penting dalam perjalanan ekonomi Indonesia. Setelah melewati pandemi dan gejolak global, kondisi ekonomi domestik belum sepenuhnya pulih. Rupiah masih berfluktuasi, daya beli masyarakat melemah, dan gelombang pemutusan hubungan kerja belum sepenuhnya reda.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah justru menjalankan ekspansi fiskal besar melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Awalnya, anggaran MBG pada APBN 2025 hanya Rp71 triliun. Namun perluasan sasaran hingga 82,9 juta penerima membuat kebutuhan dana melonjak cepat. Memasuki 2026, proyeksi anggaran bahkan diperkirakan mencapai Rp300–335 triliun—naik hampir lima kali lipat dalam dua tahun dan menjadikannya salah satu belanja terbesar sepanjang sejarah APBN.
Secara konsep, MBG membawa misi mulia: menekan stunting, memperbaiki kualitas sumber daya manusia, serta menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor pangan dan UMKM. Pemerintah menyebutnya sebagai investasi jangka panjang bagi generasi masa depan.
Namun, ekonomi selalu bekerja dengan logika keseimbangan.
Sejumlah ekonom mulai mengingatkan bahwa lonjakan belanja negara yang terlalu cepat berisiko menekan kesehatan fiskal. Defisit APBN awal 2026 disebut meningkat, biaya bunga utang naik, dan ruang fiskal untuk subsidi maupun pembangunan lain semakin sempit.
Bahkan muncul proyeksi pesimistis: defisit berpotensi mendekati Rp1.000 triliun jika tekanan global dan harga energi meningkat bersamaan.
Masalahnya bukan semata angka MBG, melainkan efek berantai yang mungkin muncul. Ketika belanja negara tumbuh lebih cepat dibanding penerimaan, pasar bisa membaca sinyal ketidakseimbangan.
Dampaknya dapat berupa kenaikan imbal hasil obligasi, kekhawatiran investor, hingga tekanan terhadap rupiah akibat arus modal keluar.
Sejarah ekonomi menunjukkan krisis jarang datang tiba-tiba. Ia biasanya diawali defisit yang melebar, utang meningkat, dan kepercayaan pasar perlahan menurun sebelum berubah menjadi kepanikan.
Di sinilah dilema kebijakan muncul: program sosial memang penting, tetapi stabilitas fiskal tetap menjadi fondasi utama. Sebab dalam ekonomi berlaku satu prinsip sederhana—negara tidak boleh membelanjakan uang lebih cepat daripada kemampuan ekonominya menghasilkan pemasukan.
MBG bisa menjadi investasi generasi emas. Namun tanpa pengelolaan fiskal yang disiplin, niat baik tersebut justru berisiko menjadi ujian terbesar ekonomi Indonesia di 2026.(*)

