Suluah.id - Pasar global kembali menunjukkan satu pelajaran lama: terkadang satu sinyal diplomasi bisa lebih kuat dampaknya dibanding satu pekan konflik militer.
Harga minyak Brent akhirnya turun di bawah level psikologis US$100 per barel menjadi US$99,15 pada Kamis (7/5). Penurunan ini bukan terjadi tanpa sebab. Setelah anjlok 7,8% sehari sebelumnya, pasar bereaksi cepat terhadap pernyataan pemerintah Iran yang tengah meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut respons resmi akan segera disampaikan, sementara Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran menginginkan kesepakatan. Bloomberg melaporkan jawaban Iran diperkirakan keluar dalam dua hari ke depan—periode singkat yang kini ditunggu pelaku pasar dunia.
Perkembangan tersebut muncul di tengah situasi panas di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global. Awal pekan ini, AS dan Iran sempat saling melancarkan serangan. Amerika mengklaim menghancurkan enam kapal militer kecil Iran, sementara Iran menyerang pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab yang memiliki fasilitas militer AS.
Namun menariknya, di tengah eskalasi itu, Washington justru memilih menekan pedal konflik. AS menghentikan sementara pengawalan kapal di Selat Hormuz guna membuka ruang diplomasi, meski blokade terhadap kapal menuju pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Pasar langsung membaca arah angin.
Bursa Asia menguat signifikan pada Kamis: Nikkei melonjak 5,58%, Hang Seng naik 1,57%, Kospi menguat 1,43%, dan IHSG ikut naik 1,15%. Optimisme juga terlihat di Wall Street dengan S&P 500 naik 1,46% dan Nasdaq 2,02%, disusul penguatan indeks Eropa Stoxx 50 sebesar 2,52%.
Fenomena ini bukan hal baru. Secara historis, pasar modal sering melakukan re-rating lebih cepat dibandingkan penyelesaian konflik itu sendiri. Investor bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan kepastian.
Bagi Indonesia, penurunan tensi geopolitik menjadi kabar penting. Harga minyak yang terlalu tinggi selama ini menjadi salah satu ancaman utama bagi stabilitas fiskal, subsidi energi, dan inflasi domestik—faktor yang kerap menekan pergerakan IHSG.
Artinya sederhana: ketika risiko perang menurun, ruang napas ekonomi negara berkembang ikut membesar.
Kini perhatian pasar tertuju pada satu momen kunci—jawaban resmi Iran terhadap proposal AS. Jika diplomasi berlanjut, reli pasar berpotensi berumur lebih panjang. Jika tidak, volatilitas bisa kembali mengetuk pintu.(*)

