Iklan

Sahur: Undangan Langit di Ujung Malam

06 Maret 2026, 08:14 WIB


Suluah.id - Pukul tiga dini hari. Alarm berbunyi pelan. Di luar, kota masih tertidur. Lampu-lampu rumah redup, jalanan lengang. Namun di sebagian rumah kaum Muslimin, ada aktivitas yang sunyi tapi bermakna: sahur.

Bagi sebagian orang, sahur mungkin sekadar rutinitas makan sebelum Subuh agar kuat berpuasa. Tetapi dalam tradisi Islam, sahur bukan hanya urusan perut. Ia adalah momen spiritual yang istimewa — bahkan disebut langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai makan yang diberkahi.”

Dalam hadis riwayat Imam an-Nasa’i dari al-Irbadh bin Sariyah, Rasulullah SAW bersabda:
“هَلُمُّوا إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ”
Kemarilah menuju makan yang diberkahi.”

Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Nabi tidak sekadar menyuruh makan. Beliau mengundang. Dan bukan sembarang makan — melainkan makan yang penuh keberkahan.

Berkah yang Tak Terlihat

Apa sebenarnya makna “berkah” dalam sahur?

Dalam literatur klasik Islam, berkah bukan hanya berarti banyak atau cukup. Berkah berarti kebaikan yang bertambah dan terus mengalir.

Ulama besar abad ke-14, Ibn Qayyim al-Jawziyya, menjelaskan dalam berbagai karyanya bahwa waktu sahur adalah bagian dari as-har — waktu menjelang fajar — yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai saat orang-orang saleh beristighfar.

Ia menulis:
Bersihnya hati, kelembutannya, getarannya, dan manisnya iman hanya diperoleh dalam kesendirian, munajat di tengah malam, dan istighfar di waktu sahur.”

Artinya, sahur bukan sekadar asupan energi fisik. Ia adalah momen pembersihan batin. Di waktu sunyi itu, ketika distraksi dunia hampir nihil, hati manusia lebih mudah jernih.

Al-Qur’an sendiri mengabadikan keutamaan waktu ini dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 18:
Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.”

Momentum Ilahi di Sepertiga Malam
Dalam hadis sahih riwayat Muhammad melalui Imam Muslim dan Imam Bukhari, disebutkan bahwa Allah “turun” ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman:
Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan.
Siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni.”

Bayangkan: di saat mayoritas manusia terlelap, ada “undangan terbuka” dari langit. Sahur terjadi tepat di momentum emas itu.

Karena itu, para ulama tidak hanya menganjurkan makan sahur, tetapi juga memaksimalkan waktu tersebut untuk doa, istighfar, dan shalat malam.

Sayangnya, di era modern, sahur sering berubah menjadi sesi terburu-buru. Ada yang begadang tanpa ibadah, lalu makan sambil mengantuk, bahkan langsung kembali tidur tanpa sempat menyapa Subuh dengan khusyuk. Momen sakral itu berlalu begitu saja.

Identitas Umat yang Unik


Sahur juga memiliki dimensi identitas keislaman. Dalam hadis riwayat Amr ibn al-As yang dicatat oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
Pembeda antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”

Artinya, sahur bukan sekadar teknis ibadah. Ia adalah simbol kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad. Umat-umat terdahulu berpuasa tanpa tradisi sahur seperti yang diajarkan dalam Islam. Umat ini justru diberikan kemudahan: makan sebelum fajar agar kuat beribadah sepanjang hari.

Dalam perspektif kesehatan modern pun, sahur terbukti membantu menjaga kestabilan gula darah dan metabolisme tubuh selama puasa, terutama jika diisi dengan makanan berserat dan protein seimbang. Artinya, nilai spiritual dan hikmah biologis berjalan beriringan.

Mengubah Cara Pandang


Barangkali yang perlu kita ubah bukan kebiasaan bangun sahur, tetapi cara memandangnya.

Sahur bukan gangguan tidur. Ia adalah undangan pribadi dari Tuhan.
Bukan sekadar nasi dan lauk. Ia adalah kesempatan emas untuk membersihkan hati.

Bukan rutinitas tahunan. Ia adalah momen transformasi spiritual.

Coba bayangkan: ketika kita bangun dalam gelap, berwudhu dengan air dingin, duduk hening dengan mushaf di tangan, lalu berdoa dalam lirih — di situlah iman sedang dipupuk. Tidak terlihat, tidak dipuji manusia, tetapi dicatat di sisi Allah.
Dan mungkin, justru dari waktu-waktu seperti itulah lahir ketenangan yang sulit dijelaskan, kekuatan yang tak kasat mata, serta keberkahan yang terasa sepanjang hari.

Maka saat alarm sahur berbunyi malam ini, jangan hanya niatkan untuk makan.

Niatkan untuk hadir.
Niatkan untuk mendekat.
Niatkan untuk pulang.

Semoga sahur kita bukan sekadar pengisi energi, tetapi pembuka pintu rahmat.
Wallahu a’lam bish shawab.
(*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Sahur: Undangan Langit di Ujung Malam

Iklan