Iklan

Tanah Pak Lambik: Jejak Van Lambrex, Harmoni Budaya di Jantung Padang Panjang

05 Februari 2026, 09:41 WIB


Padang Panjang, suluah.id - Di Kota Padang Panjang—yang dikenal luas sebagai Serambi Mekkah Sumatera Barat—terselip sebuah kelurahan kecil dengan kisah besar.

Namanya Tanah Pak Lambik, atau kerap pula ditulis Tanah Pak Lambiak. Sekilas, ia tampak seperti kelurahan lain di Kecamatan Padang Panjang Timur. Namun jika ditelisik lebih dalam, Tanah Pak Lambik menyimpan jejak sejarah, percampuran budaya, serta semangat kebersamaan yang jarang ditemui di daerah lain.

Tak berlebihan jika kelurahan berkode pos 27121 ini disebut sebagai salah satu miniatur Indonesia di ranah Minang.

Dari Van Lambrex ke Pak Lambik


Nama Tanah Pak Lambik bukanlah sekadar penamaan geografis. Beberapa literatur dan cerita lisan masyarakat setempat menyebutkan bahwa nama ini berakar dari masa kolonial Belanda. 

Konon, wilayah ini dahulu dikenal sebagai “Tanah Van Lambrex”, merujuk pada nama seorang Belanda yang pernah bermukim atau memiliki lahan di kawasan tersebut.



Seiring waktu, penyebutan itu mengalami pelokalan lidah. “Van Lambrex” terdengar asing bagi masyarakat setempat, lalu berubah menjadi “Pak Lambik”—sebuah adaptasi fonetik yang khas dan mencerminkan cara masyarakat Minangkabau menyerap istilah asing ke dalam bahasa sehari-hari.

Fenomena ini bukan hal baru dalam kajian sejarah lokal Indonesia. Menurut sejarawan Taufik Abdullah (LIPI), banyak toponimi di Indonesia yang lahir dari proses serupa: perjumpaan kolonial, adaptasi bahasa, lalu mengendap menjadi identitas lokal yang baru.

Nuansa Belanda-Jawa di Tengah Ranah Minang


Yang membuat Tanah Pak Lambik semakin unik adalah karakter kulturalnya yang heterogen. Di tengah dominasi budaya Minangkabau di Padang Panjang, Tanah Pak Lambik justru tumbuh sebagai ruang pertemuan berbagai etnis.

Warganya berasal dari beragam latar belakang: Minang, Jawa, Batak, dan kelompok lainnya. Jejak Jawa, misalnya, masih terasa dalam pola permukiman, tradisi gotong royong, hingga dialek sehari-hari sebagian warga. Sementara nilai-nilai Minangkabau tetap menjadi fondasi sosial, terutama dalam musyawarah dan kehidupan bermasyarakat.

Perpaduan ini melahirkan slogan lokal yang kuat dan penuh makna: “BAJAMBA BASATU”—bersama dalam perbedaan, bersatu dalam kebersamaan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang Panjang, keberagaman sosial yang dikelola dengan baik terbukti berkontribusi terhadap stabilitas sosial dan partisipasi warga dalam pembangunan wilayah. Tanah Pak Lambik menjadi contoh nyata bagaimana heterogenitas bukan sumber konflik, melainkan modal sosial.

Prestasi yang Berangkat dari Kebersamaan


Semangat kolektif itulah yang mengantarkan Tanah Pak Lambik meraih Juara II Lomba Kelurahan Berprestasi tingkat Provinsi Sumatera Barat tahun 2025




Prestasi ini bukan sekadar soal administrasi atau penilaian dokumen, melainkan pengakuan atas tata kelola kelurahan, partisipasi masyarakat, inovasi pelayanan publik, serta keberhasilan menjaga harmoni sosial.

Dalam penilaian lomba kelurahan berprestasi—sebagaimana pedoman Kementerian Dalam Negeri—indikator utama mencakup kinerja pemerintahan, kewilayahan, dan kemasyarakatan. Tanah Pak Lambik dinilai unggul dalam aspek kolaborasi warga lintas etnis, serta kemampuan mengelola potensi lokal secara inklusif.

Kelurahan Kecil dengan Cerita Besar
Tanah Pak Lambik mengajarkan bahwa identitas sebuah wilayah tidak selalu dibentuk oleh ukuran atau kemegahan. Kadang, ia tumbuh dari cerita-cerita kecil: nama yang berubah karena lidah lokal, perjumpaan budaya yang tak direncanakan, hingga kebersamaan yang dirawat lintas generasi.

Di tengah arus homogenisasi dan menguatnya politik identitas, Tanah Pak Lambik hadir sebagai pengingat bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan—bahkan menjadi kekuatan.

Sebuah kelurahan kecil di Padang Panjang Timur, dengan sejarah kolonial yang membumi, budaya yang berbaur, dan prestasi yang membanggakan. Tanah Pak Lambik bukan hanya titik di peta, melainkan kisah tentang Indonesia dalam skala paling jujur. Makin tahu Padang Panjang.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Tanah Pak Lambik: Jejak Van Lambrex, Harmoni Budaya di Jantung Padang Panjang

Iklan