Suluah.id - Di tengah hiruk-pikuk dunia yang gemar menilai dari tampilan luar, ada satu ukuran hidup yang kerap luput kita jaga. Padahal, justru di sanalah nilai manusia ditimbang dengan sebenar-benarnya.
Bukan pada seberapa terkenal nama kita, bukan pula pada banyaknya pujian yang kita terima, melainkan pada satu pertanyaan sederhana namun menusuk: siapa diriku di mata Allah?
Ulama besar abad ke-6 Hijriah, Ibn al-Jawzi, pernah mengingatkan dalam Shifat al-Shafwah, “Berhati-hatilah, jangan sampai engkau dipuji manusia, sementara engkau menyimpan aib yang tak tersembunyi dari Allah.” Sebuah nasihat yang terasa kian relevan di zaman ketika citra sering kali lebih penting daripada kejujuran.
Hari ini, ukuran nilai diri kerap dikaitkan dengan jumlah pengikut, sorotan kamera, dan validasi publik. Namun apa arti semua itu jika penduduk langit tidak mengenal nama kita? Apa gunanya dikenal luas di bumi, bila asing di hadapan Tuhan?
Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan tentang hamba-hamba Allah yang tidak terkenal di dunia, berpakaian sederhana, hidup biasa saja. Namun jika mereka bersumpah atas nama Allah, sumpah itu dikabulkan.
Dalam riwayat disebutkan, ketika mereka berdoa, para malaikat berkata, “Ya Allah, ini suara hamba-Mu yang kami kenal.” Pertanyaannya, apakah doa kita termasuk suara yang akrab di langit, atau hanya ramai di telinga manusia?
Lihatlah para sahabat Nabi. Abu Bakar tidak pernah sibuk membangun citra. Ia menangis dalam shalatnya karena takut amalnya tidak diterima. Umar bin Khattab, pemimpin besar yang ditakuti musuh, justru gemetar mendengar ayat tentang hisab. “Seandainya semua manusia masuk surga kecuali satu orang,” katanya, “aku khawatir orang itu adalah aku.”
Sikap serupa juga ditunjukkan generasi setelahnya. Hasan al-Bashri dikenal menangis di malam hari, namun tampil tenang di siang hari. Ia berkata, “Aku takut jika amal ini terlihat manusia, Allah justru menjauhkannya dariku.” Sementara Sufyan ats-Tsauri mengaku, “Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat daripada niatku.”
Rasulullah ﷺ mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” Hadis ini menjadi pagar agar kita tidak tersesat dalam pencitraan semu.
Pada akhirnya, pujian manusia tak menambah apa pun jika Allah tidak meridhai. Sebaliknya, celaan manusia tak mengurangi nilai kita jika Allah menerima. Barangkali doa yang paling jujur hari ini adalah: “Ya Allah, jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan, ampuni apa yang tidak mereka ketahui.”
Jika suatu hari kita merasa sepi, tak dikenal, dan jauh dari sorotan, jangan buru-buru bersedih. Bisa jadi, justru saat itulah Allah sedang memperhatikan kita. Karena sejak dulu hingga kini, ukuran hidup itu tetap sama: siapa dirimu di mata Allah.(*)



