Iklan

Belajar di Era AI: Saat Mesin Semakin Cerdas, Mampukah Kita Tetap Menjadi Manusia?

11 Desember 2025, 10:22 WIB


Suluah.id - Manila, siang hari itu mestinya menjadi momen paling melelahkan bagi peserta 11th ADB International Education and Skills Forum. Sesi penutup biasanya identik dengan mata yang mulai sayu, kepala yang sudah separuh memikirkan koper, dan langkah yang bersiap menuju bandara.

Namun sebuah suara muda dari panggung membuat ruangan itu justru hidup kembali.
Namanya Lyqa Maravilla, seorang education influencer asal Filipina yang belakangan ini dikenal luas di Asia Tenggara berkat gaya komunikasinya yang lugas dan visioner. Presentasinya diberi judul The Future of Education: Learning Beyond the Classroom.” Slide-nya minimalis.

Bahasanya sederhana. Tapi gagasannya—menohok.

Di salah satu slide, ia memetakan evolusi cara manusia belajar. Sebuah peta yang membuat banyak peserta—termasuk saya—terdiam beberapa saat. 

Di sana, terselip pesan bahwa cara otak manusia bekerja kini berubah lebih cepat dibanding sistem pendidikan yang mengajarnya.

Dari Era Print hingga Era Algorithm: Di Mana Kita Berdiri?


Lyqa merangkumnya dalam tiga fase awal.

1. Era Print: Saat Hafalan Menjadi Mata Uang Utama

Ini adalah masa ketika buku, majalah, diktat, dan koran menjadi satu-satunya “internet”.
Siapa punya buku, dialah raja.

Siapa hafal tanggal dan definisi, dialah juara kelas.

Cara belajar yang paling dianggap sakti? Deep Work—fokus panjang, disiplin, dan tahan bosan.

Riset dari University of California (2019) menunjukkan, membaca dalam rentang panjang memang melatih neural pathways yang mendukung konsentrasi jangka panjang.

Pada masa inilah pendidikan dibangun di atas satu fondasi: ketekunan.

2. Era Search: Ketika Google Menjadi Guru Baru

Perubahan besar tiba saat mesin pencari muncul. Informasi tidak lagi perlu dicari di perpustakaan. Cukup ketik kata kunci.
Orang pintar di era ini bukan yang paling hafal—melainkan yang paling cerdik merumuskan pertanyaan.

Metode belajar pun bergeser. Bukan lagi menghafal, melainkan berpikir skeptis.

UNESCO (2021) bahkan menempatkan information literacy sebagai kompetensi utama abad 21: kemampuan memilah fakta dari hoaks.

3. Era Algorithm: Informasi Tidak Dicari, Tapi Disuapkan

Sekarang kita hidup di titik di mana informasi lebih tahu tentang kita dibanding kita sendiri.

Algoritma TikTok, YouTube, dan Instagram menentukan apa yang kita lihat. Apa yang kita suka, itu yang dikirimkan. Tanpa kita minta.

Inilah bahaya sebenarnya: kita terperangkap dalam ruang gema (echo chamber).

Orang yang terlihat “pintar” seringkali adalah yang paling viral. Padahal, menurut Lyqa, tantangan era ini adalah menjadi “Si Waras”: mereka yang mampu tetap objektif di tengah banjir konten emosional.

Caranya?
Lyqa menyebut konsep Reach to Teach—mencari hal yang tidak kita sukai, mempelajarinya, lalu mengajarkannya kembali.

Belajar bukan lagi konsumsi pasif, melainkan aktivitas sadar untuk memperluas perspektif.

Era Generative AI: Ketika Mesin Tidak Lagi Menjawab, Tapi Berpikir


Pada titik ini, saya merasa presentasi Lyqa masih “terlalu sopan”.

Karena kenyataannya, kita sudah masuk fase berikutnya: Generative AI.

Ini adalah era ChatGPT, Claude, Gemini, Copilot, DeepSeek—di mana kita tidak lagi meminta link, tetapi meminta hasil pikirannya.

“Kompilasikan data kemiskinan Indonesia.”
“Ringkas buku 300 halaman dalam gaya bahasa remaja.”
“Debat argumen saya.”
Dan mesin melakukannya… dalam hitungan detik.

Di era ini, kemampuan terpenting manusia bukan hafalan, bukan pula pencarian informasi.

Melainkan kemampuan bertanya dan berdialog.
Cara belajar baru?
Dialog Iteratif.

AI bukan guru, tapi sparring partner. Kita menguji ide, mengasah logika, menantang pemikiran kita sendiri.

Era Kelima: Agentic AI — Masa Ketika Mesin Bertindak Mandiri


Para pakar teknologi—dari Google DeepMind hingga MIT CSAIL—sepakat bahwa kita sedang bergerak menuju Agentic AI: teknologi yang bukan hanya menjawab, tetapi bertindak.

Bayangkan:
Anda berkata pada ponsel atau kacamata pintar Anda:
“Saya ingin liburan ke Bali. Atur semuanya.”
Maka AI yang akan:
membandingkan harga tiket,
memesan hotel,
menawar harga dengan AI maskapai,
hingga menyiapkan itinerary sesuai preferensi Anda.

Teknologi menjadi invisible interface.
Kita tidak lagi berinteraksi—kita memberi mandat.

Paradoks Besar: Semakin Canggih Teknologinya, Semakin Rentan Otak Manusia


Di tengah kecanggihan itu, ada ancaman baru yang diam-diam mengintai:
Popcorn Brain—istilah yang dipopulerkan Stanford University untuk menggambarkan otak yang melompat-lompat, kehilangan fokus akibat kebiasaan konsumsi konten cepat.

Kita semakin cerdas secara digital, tapi semakin ringkih secara mental.
Inilah sebabnya, menurut banyak peneliti (Maryanne Wolf, Harvard University), keterampilan kuno justru kembali menjadi “kemewahan baru” yaitu:
Deep Reading — Membaca Mendalam

Mengapa?
Membangun struktur berpikir.
AI bisa merangkum, tapi tidak bisa meningkatkan critical thinking Anda tanpa fondasi intelektual yang kuat.

Membentuk pengetahuan internal.
AI tidak bisa membuat kita kreatif jika kepala kita kosong.
Kreativitas lahir dari endapan bacaan panjang.

Melatih empati dan moralitas.
UNESCO menyebut membaca naratif sebagai salah satu cara terbaik membangun empati—kemampuan yang tidak dapat digantikan mesin.

Masalahnya: Sistem Pendidikan Kita Masih Terjebak di Era Print


Di saat dunia berbicara tentang Agentic AI,
sebagian sekolah masih sibuk menguji hafalan.

Sementara generative AI dapat menjawab soal “sebutkan tiga penyebab revolusi industri” dalam 0,4 detik, banyak murid masih diuji dengan metode yang sama sejak 1980-an.

Maka akan muncul kesenjangan kognitif baru:
Mereka yang mampu memerintah AI karena punya kedalaman berpikir.
Dan mereka yang hanya menjadi konsumen algoritma.

Pada Akhirnya, AI Tidak Mengganti Manusia. AI Menguji Kemanusiaan Kita.


Lyqa menutup presentasinya dengan kalimat indah:

“We lose what we don’t use, but the world will forget what we don’t share.”

Saya ingin menambahkan:
Di era AI, kecerdasan menjadi murah. Yang mahal adalah kesadaran dan kebijaksanaan.

Mesin bisa mengolah data kemiskinan.
Mesin bisa membuat strategi mengentaskannya.
Mesin bisa menyalurkan bantuannya secara otomatis.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan mesin:
merasakan pedihnya kemiskinan itu sendiri.

Guru masa depan mungkin tidak lagi mengajar “apa itu 1+1”,
melainkan “kenapa jujur itu penting ketika menghitung”.

Semakin maju teknologinya, semakin kita dipaksa untuk menjadi manusia yang lebih manusia.

Jadi, jangan takut pada AI.
Takutlah jika di era secanggih ini…
kita kehilangan hati.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Belajar di Era AI: Saat Mesin Semakin Cerdas, Mampukah Kita Tetap Menjadi Manusia?

Iklan