Iklan

Seni Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas

20 November 2025, 07:54 WIB


Suluah.id - Di dunia yang bergerak semakin cepat, kita mudah terjebak dalam perlombaan yang seolah tidak ada garis finisnya. 

Kita mengejar rasa aman, mengincar pengakuan, dan membidik posisi yang dianggap bisa membuat hidup terasa lebih berarti. 

Namun di balik semua hiruk-pikuk itu, ada satu kebijaksanaan yang sering kita abaikan: kemampuan berhenti sejenak dan berkata dalam hati, “Aku cukup.”

Bukan berarti kita menutup pintu mimpi. Justru karena kita ingin tetap waras, tetap manusia, dan tidak kehilangan diri dalam kelelahan yang tak kunjung selesai.

Ketika Hidup Terasa Kurang, Padahal Tidak Ada yang Benar-Benar Hilang


Pernahkah Anda merasa gelisah bukan karena kekurangan, tetapi karena melihat pencapaian orang lain di media sosial?

Fenomena ini ternyata sangat manusiawi. Sebuah studi dari University of Copenhagen menemukan bahwa penggunaan media sosial berlebih dapat meningkatkan kecemasan dan rasa tidak puas terhadap hidup, terutama karena kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. 

Bahkan WHO dalam beberapa laporannya menyebutkan bahwa tekanan sosial modern turut berkontribusi pada meningkatnya stres dan gangguan kesehatan mental.

Padahal, kebahagiaan bukan perlombaan. Tidak ada medali emas untuk hidup paling mewah atau karier paling cepat. 

Kekayaan sejati justru tumbuh ketika kita mampu memandang apa yang ada di tangan dengan rasa syukur yang jujur. Rasa cukup itu seperti mata air tenang yang menghapus kegelisahan di dada.

Ketika Perbandingan Menggerogoti Kedamaian

Coba ingat beberapa momen kecil dalam hidup. Berapa kali kita merasa gelisah bukan karena kita benar-benar kekurangan, tetapi karena kita membandingkan diri dengan orang lain?

Teman membeli rumah baru, rekan kerja dapat promosi, atau tetangga terlihat “lebih mapan”. Lalu hati kita gusar seolah hidup adalah kompetisi yang harus dimenangkan.

Padahal, penelitian dalam Journal of Happiness Studies menunjukkan bahwa kebiasaan membandingkan diri adalah salah satu penyebab utama menurunnya kepuasan hidup. Semakin sering membandingkan, semakin mudah rasa kurang itu tumbuh.

Padahal dalam Islam, ketenangan itu justru datang ketika kita mensyukuri apa yang ada.

Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur bukan cuma ucapan, tapi cara memandang hidup. Ketika hati lapang, hal kecil pun terasa cukup.

Rasa Cukup: Jangkar di Tengah Ambisi

Bekerja keras tidak salah. Bercita-cita tinggi juga baik. Namun tanpa rasa cukup al qanaah_ ambisi bisa berubah menjadi kerakusan. Kita terus mengisi, tetapi tidak pernah penuh.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan hal ini dalam sabdanya:
Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasa cukup adalah jangkar yang menahan kita dari hanyut dalam keinginan tanpa batas. Tanpa jangkar itu, hidup jadi mudah iri, mudah kecewa, mudah merasa tidak pernah memiliki cukup waktu, cukup uang, cukup pencapaian.

Orang bijak berkata, “Keinginan manusia seperti karung yang tak ada dasarnya—apa pun yang dimasukkan, selalu ada ruang untuk lebih.”

Mengajukan Pertanyaan yang Jarang Kita Berani Jawab


Mungkin sudah saatnya kita duduk tenang dan bertanya pada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang sedang saya kejar?
Kebahagiaan? Atau sekadar pengakuan?
Ketenangan batin? Atau gengsi sesaat?

Pertanyaan-pertanyaan itu memang terkadang menyentuh sisi yang tidak nyaman. Namun di situlah kejujuran tumbuh. Dan dari kejujuran, lahirlah perubahan.

Dalam psikologi modern, ini disebut mindful evaluation—membaca ulang tujuan hidup secara sadar. Metode ini terbukti membantu seseorang mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepuasan hidup.

Merawat Rasa Cukup, Bukan Mematikan Harapan


Belajar merasa cukup bukan berarti memadamkan impian. Justru sebaliknya, rasa cukup membuat kita berharap dengan cara yang lebih sehat. Impian kita tumbuh di tanah yang teduh, bukan dalam kecemasan.

Cukup bukan berarti berhenti melangkah—cukup berarti kita tidak lupa dari mana memulai dan apa yang benar-benar penting.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Dan janganlah kamu memanjangkan pandanganmu kepada apa yang Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai perhiasan dunia.”
(QS. Thaha: 131)

Ayat ini adalah penanda lembut bahwa melihat terlalu jauh ke luar seringkali justru membuat kita lupa melihat ke dalam.

Di Mana Kekayaan Sejati Bersemayam


Kekayaan sejati tidak selalu tampak di rekening. Ia hadir ketika seseorang mampu berkata:
Hari ini cukup. Dan untuk itu, aku bersyukur.”

Kekayaan ini tidak hilang meski harta berkurang. Tidak pudar meski jabatan bergeser.Tidak runtuh meski waktu berubah.

Ia tumbuh dari hati yang damai, hati yang mampu menikmati apa yang sudah digenggam, bukan apa yang terus dikejar.

Nabi SAW bersabda:
Sungguh beruntung seseorang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, serta Allah menjadikannya puas dengan apa yang diberikan.”
(HR. Muslim)

Menemukan Kedamaian yang Tidak Dibeli


Mari kita biasakan melihat ke dalam sebelum melihat ke luar. Dunia boleh terus berlari, tapi hati kita tidak perlu ikut terseret. Rasa cukup tidak membuat hidup mengecil—justru membuat kita lebih lapang.

Sebab kadang, yang kita cari selama ini bukanlah lebih banyak, tetapi lebih tenang.

Tentu bukan berarti kita berhenti bekerja atau berhenti merapikan cita-cita. Ambisi tetap penting. Namun, tanpa “jangkar” yang bernama rasa cukup, ambisi bisa berubah menjadi kerakusan.

Psikolog dan penulis best-seller The Happiness Trap, Dr. Russ Harris, menyebut bahwa kita sering kali salah mengira bahwa lebih banyak berarti lebih bahagia, padahal yang kita cari sebenarnya adalah ketenangan dan makna—dua hal yang tidak bisa dibeli.

Ketika rasa cukup memudar, kita mudah iri, tersinggung, dan kecewa. Di titik inilah kata-kata bijak lama kembali terasa relevan:
Keinginan manusia tak akan pernah penuh. Sekalipun sebuah karung telah terisi, ia akan tetap meminta tambahan.”

“Cukup” Bukan Berhenti, Tapi Menata Hati


Belajar merasa cukup adalah tentang menata kembali kompas batin. Supaya harapan tumbuh di tanah yang subur—bukan di ladang penuh kecemasan.

Psikolog dari Harvard, Dr. Tal Ben-Shahar, menyebut konsep ini sebagai “sufficiency mindset”, yaitu pola pikir yang membantu seseorang menikmati proses tanpa merasa dikejar standar eksternal.

Nilai diri kita bukan berasal dari apa yang kita punya, tapi dari kemampuan kita menghargai apa yang sudah ada.

Memandang ke Dalam Sebelum Melihat ke Luar


Di tengah dunia yang sering membuat kita merasa kurang, sempatkanlah melihat ke dalam. Kemungkinan besar, kita akan menemukan kekayaan yang selama ini kita buru: ketenangan, rasa syukur, dan kemampuan menikmati hari ini.

Inilah kekayaan yang tidak hilang meski harta menipis. Tidak pudar meski posisi bergeser. Tidak rapuh meski dunia berubah.

Terkadang, kebahagiaan hadir sesederhana ketika kita bisa berkata pelan-pelan,
Hari ini cukup. Dan aku bersyukur.”
(*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Seni Merasa Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas

Iklan