Iklan

Hidup Bukan Sekadar "Ada", Berusahalah Untuk Berguna

19 November 2025, 07:39 WIB


Suluah.id - Di tengah hidup yang serba cepat, pertanyaan sederhana ini sering luput: apakah kita sudah menjadi manusia yang bermanfaat? Dalam Islam, manfaat bukan bonus, tetapi bagian dari misi hidup seorang hamba.

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah (QS. Adz-Dzariyat: 56)—dan ulama menjelaskan bahwa ibadah mencakup seluruh aktivitas berniat baik, mulai dari bekerja jujur hingga membantu sesama. 

Karena itu, Allah memerintahkan: “Berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77). Artinya, seorang muslim seharusnya menjadi sumber kebaikan di lingkungannya.

Shalat yang benar pun sejatinya melahirkan karakter berakhlak, sebab Allah berfirman: Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (QS. Al-‘Ankabut: 45). 

Jika ibadah seseorang tidak membuatnya lebih jujur dan berhati-hati agar tidak merugikan orang lain, berarti ada yang perlu diperbaiki.

Kerangka hidup yang paling ringkas disampaikan dalam Surat Al-‘Ashr. Empat hal—iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran—mewakili dua dimensi: baik untuk diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Di sinilah Islam menegaskan bahwa seorang muslim ideal bukan hanya yang “tidak membuat masalah”, tapi juga menghadirkan manfaat nyata.
Rasulullah SAW menyampaikan standar yang sangat jelas: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” 

Hadits ini mencakup profesi apa pun: guru, pedagang, pejabat, relawan, hingga kreator digital. Selama membawa kebaikan, semuanya bernilai ibadah.
Sejarah Islam menunjukkan betapa luasnya bentuk manfaat.

Abdurrahman bin Auf bermanfaat melalui hartanya; Abu Hurairah melalui ilmunya; Salman Al-Farisi melalui gagasan strategisnya; dan Khaulah binti Tsa’labah memperjuangkan keadilan hingga turun wahyu (QS. Al-Mujadilah: 1). Mereka berbeda, tapi satu tujuan: kemaslahatan.

Rasulullah juga mengingatkan tentang manfaat jangka panjang: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh. Tiga hal ini adalah “aset akhirat” yang terus mengalir pahalanya meski kita telah tiada.

Di era digital, manfaat bisa menyebar cepat: menyebar informasi yang benar, membantu penggalangan dana, atau membuat konten edukatif yang mencerahkan. Kebaikan kecil pun bisa berdampak besar.

Menjadi manusia bermanfaat bukan hal muluk. Mulailah dari iman, taqwa, mengikis ego, dan memakai potensi yang kita punya—harta, ilmu, tenaga, atau sekadar kebaikan sikap.

Karena pada akhirnya, manusia terbaik adalah mereka yang kehadirannya membuat dunia sedikit lebih ringan.(*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Hidup Bukan Sekadar "Ada", Berusahalah Untuk Berguna

Iklan