Suluah.id - Di era ketika satu kalimat bisa tersebar ke ribuan orang hanya dalam hitungan detik, menjaga lisan terasa makin penting—bahkan mendesak.
Meski ukurannya hanya beberapa sentimeter, lidah memegang peran besar dalam membentuk hubungan, suasana, hingga citra diri seseorang.
Banyak ahli menyebut lisan sebagai “aksesori moral” yang paling mempengaruhi reputasi manusia.
Dalam Islam, lisan memiliki posisi istimewa. Al-Qur’an mengingatkan, “Bukankah Kami telah menjadikan untuknya dua mata, satu lidah, dan dua bibir?” (QS. Al-Balad: 8–9).
Ayat pendek ini seperti alarm kecil: bahwa organ yang tampak sederhana itu sesungguhnya adalah amanah besar.
Ulama tafsir menambahkan, ayat tersebut menegaskan bahwa manusia telah dibekali perangkat lengkap untuk membedakan yang benar dan salah—termasuk lewat ucapannya. Dengan kata lain, ucapan bukan sekadar suara, melainkan cerminan nilai yang kita anut.
Ketika Satu Kalimat Bisa Mengangkat atau Menjatuhkan
Rasulullah SAW memberikan pedoman yang sangat sederhana namun kuat:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering dikutip, namun nyatanya sulit dipraktikkan. Di zaman digital, ruang publik dipenuhi komentar spontan, ocehan emosional, atau candaan yang kelewat batas.
Penelitian dari University of Michigan (2021) bahkan menemukan bahwa 41% konflik di dunia maya bermula dari pilihan kata yang tergesa-gesa.
Sementara itu, World Economic Forum mencatat bahwa ujaran kebencian meningkat drastis sejak 2018—bukan hanya merusak reputasi individu, tetapi juga ikatan sosial.
Ghibah: Kebiasaan Lama dalam Wajah Baru
Allah menggambarkan ghibah (menggunjing) dengan cara yang dramatis:
“Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Bayangan itu saja sudah membuat kita bergidik. Namun fakta modern menunjukkan ghibah kini punya “versi digital”: komentar di grup WhatsApp, thread panjang di media sosial, atau konten viral yang sebenarnya membahas aib orang lain.
Sosiolog komunikasi dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menyebut fenomena ini sebagai “ghibah sistemik”—perilaku menggunjing yang dianggap normal karena terjadi berjamaah di ruang digital.
Padahal, efeknya jelas: membuat hubungan renggang, memicu kesalahpahaman, dan meninggalkan luka sosial berkepanjangan.
Setiap Kata Terekam, Bahkan yang Kita Lupa
Al-Qur’an menegaskan:
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya kecuali dicatat oleh malaikat pengawas yang selalu siap.”
(QS. Qaf: 18)
Ayat ini terasa makin relevan di era digital. Jejak digital (digital footprint) hampir mustahil dihapus sepenuhnya. Apa yang kita tulis hari ini bisa muncul lagi di masa depan—baik sebagai inspirasi atau sebagai bumerang.
Menurut Harvard Business Review, 70% perusahaan kini melakukan screening rekam jejak digital kandidat sebelum diterima bekerja. Jadi, kata-kata yang kita ucapkan (atau tuliskan) benar-benar punya konsekuensi duniawi dan ukhrawi.
Bagaimana Melatih Lisan? 4 Langkah Sederhana
1. Berpikir 3 Detik Sebelum Bicara
Psikolog komunikasi menyebut teknik ini micro pause. Tanyakan:
Benar? Penting? Bermanfaat?
Jika ragu, diam adalah pilihan paling elegan.
2. Biasakan Ucapan Baik
Membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau membiasakan kalimat positif membuat lisan lebih “terlatih”. Dalam neuropsikologi, repetisi ucapan baik terbukti mempengaruhi pola pikir dan emosi seseorang.
Membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau membiasakan kalimat positif membuat lisan lebih “terlatih”. Dalam neuropsikologi, repetisi ucapan baik terbukti mempengaruhi pola pikir dan emosi seseorang.
3. Pilih Lingkungan yang Menjaga Kata
Lingkungan yang sehat akan menjaga kita dari ucapan yang sia-sia. Rasulullah SAW berpesan bahwa seseorang akan mengikuti agama sahabatnya. Secara psikologis, lingkungan verbal sangat memengaruhi cara kita berbicara.
4. Muhasabah Harian
Luangkan dua menit setiap malam. Tanyakan:
Apakah hari ini aku menyakiti orang lewat kata-kataku?
Jika iya, tidak ada ruginya meminta maaf. Justru itu tanda kedewasaan.
Pada Akhirnya, Lisan Adalah Cermin Kepribadian
Menjaga lisan bukan sekadar latihan spiritual—ia adalah investasi sosial. Orang yang ucapannya terjaga lebih dipercaya, lebih disukai, dan memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.
Di tengah bisingnya komentar dunia maya, menjaga lisan adalah bentuk self-control yang bernilai ibadah sekaligus peradaban.
Lisan kecil, tetapi dampaknya besar. Ia bisa menjadi jembatan menuju kebaikan atau jurang menuju masalah. Pilihannya ada pada kita.(*)



