Iklan

Benteng di Era Digital: Menyikapi “Perang Pemikiran” yang Mengintai Generasi Muslim

22 November 2025, 10:46 WIB


suluah.id - Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya global, umat Islam hari ini menghadapi tantangan yang sering kali tak tampak bentuknya. 

Bukan suara dentuman senjata, melainkan “perang pemikiran”—atau Ghazwul Fikri—yang merayap halus lewat layar ponsel, tontonan, hingga ruang pendidikan.

Banyak akademisi menyebut fenomena ini sebagai soft power influence, sebuah cara memengaruhi pola pikir masyarakat tanpa paksaan.

Al-Qur’an sudah lama mengingatkan bahwa kerusakan kadang berawal dari runtuhnya nilai, bukan sekadar fisik. 

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 205 disebutkan bagaimana kerusakan dapat merembet dari satu pribadi ke masyarakat luas.

Mengapa Perang Pemikiran Disebut Berbahaya?


Para peneliti di Oxford Centre for Islamic Studies menyebut bahwa tantangan utama umat Islam modern bukan lagi penjajahan fisik, melainkan “pergeseran identitas” yang terjadi secara perlahan—sering kali tak disadari.

Fenomena ini muncul melalui beberapa bentuk:

Erosi akhlak
Normalisasi perilaku menyimpang, standar moral yang cair, dan budaya permisif mudah menyusup melalui media digital. 

Laporan UNESCO (2023) menunjukkan peningkatan konten berbau kekerasan, pornografi, dan perilaku menyimpang yang dikonsumsi remaja global, termasuk di Asia Tenggara.

Pelemahan pemikiran Islam
Arus sekularisme, relativisme moral, hingga penyempitan makna agama sering membuat generasi muda menjauh dari tradisi ilmiah Islam yang kokoh.

Krisis jati diri
Banyak psikolog menyebut fenomena identity loss, di mana remaja mudah meniru budaya populer tanpa filter. 

Di Indonesia, survei Pew Research Center (2022) menunjukkan 64% anak muda mengaku lebih banyak menerima nilai dari internet dibandingkan keluarga atau sekolah.

Penjauhan dari agama
Tren “no religion” di kalangan generasi Z meningkat di banyak negara. Di Amerika dan Eropa, angka ini bahkan mencapai lebih dari 30%. Meski di Indonesia tidak sebesar itu, gejalanya mulai tampak.

Loyalitas budaya yang bergeser
Saat identitas agama memudar, rasa bangga terhadap nilai Islam pun ikut tergerus oleh gaya hidup yang didorong dunia hiburan dan budaya populer internasional.

Bagaimana Pengaruh Ini Menyusup?


Lembut—itu kata kuncinya. Masuknya melalui berbagai pintu:

Media massa dan media sosial: framing negatif tentang Islam, stereotip radikalisme, hingga konten yang menjauhkan anak dari nilai spiritual.

Sistem pendidikan: banyak kurikulum global menekankan rasionalisme mutlak, namun miskin ruang dialog tentang moral dan spiritualitas.

IndustrI hiburan: film, musik, fashion, hingga influencer culture kerap membawa nilai yang bertentangan dengan etika Islam.

Gaya hidup 4F (Food, Fashion, Fun, Film): konsep pemasaran global yang berhasil menggeser orientasi gaya hidup anak muda.

Organisasi internasional: beberapa LSM global menghadirkan agenda yang tak selalu selaras dengan nilai sosial lokal.
Fenomena ini bukan tuduhan, melainkan hasil penelitian banyak pakar komunikasi global, termasuk Joseph Nye yang memperkenalkan konsep “soft power”.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?


Solusi menghadapi perang pemikiran bukan dengan ketakutan, tetapi literasi dan ketahanan nilai.

Memperkuat keluarga sebagai pusat pendidikan karakter
Psikolog keluarga menyebut 70% nilai dasar anak dibentuk di rumah. Orang tua perlu hadir, berdialog, dan mendampingi aktivitas digital anak.

Pendidikan Islam yang integratif
Bukan hanya soal hafalan, tetapi membangun pola berpikir kritis yang berakar pada akhlak dan tradisi ilmiah Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim (HR. Ibnu Majah).

Penguatan literasi digital
Anak muda perlu dibekali kemampuan mengidentifikasi hoaks, framing, propaganda, dan bias media. Banyak sekolah dan kampus kini menerapkan kurikulum literasi digital yang dapat menjadi rujukan.

Ekonomi syariah dan kemandirian umat
Ketahanan ekonomi mendorong kemandirian pemikiran. Majelis Ulama Indonesia menyebut pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia terus naik dan menjadi peluang besar umat.

Seni dan budaya yang sehat
Banyak kreator muslim menciptakan film keluarga, musik positif, hingga konten edukatif berbasis nilai Islam yang menarik bagi generasi Z.

Dakwah yang adaptif dan relevan


Dakwah masa kini perlu memanfaatkan platform digital, bahasa yang ramah, dan pendekatan yang dialogis—bukan menghakimi.

Peradaban Islam sepanjang sejarah selalu menghadapi tantangan. Namun kekuatan umat bukan terletak pada banyaknya jumlah, melainkan pada keteguhan nilai dan kejernihan berpikir.

Selama keluarga, sekolah, masyarakat, dan para pemuda terus menjaga literasi dan identitasnya, “perang pemikiran” tidak akan mudah merusak umat. Jalan kembali kepada Al-Qur’an dan teladan Nabi bukan sekadar ajaran lama, tetapi fondasi paling kokoh menghadapi perubahan zaman.(*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Benteng di Era Digital: Menyikapi “Perang Pemikiran” yang Mengintai Generasi Muslim

Iklan