Iklan

Sebelum Dihisab, Mari Belajar Menghisab Diri Sendiri

13 November 2025, 09:36 WIB


Suluah.id - Malam turun perlahan, membawa kesunyian yang menenangkan. Di bawah langit bertabur bintang, sebagian orang menutup hari dengan gawai di tangan, sebagian lagi dengan renungan di dada. 

Di antara keduanya, ada satu pertanyaan sederhana yang kadang menampar kesadaran kita:
“Apa yang sudah aku lakukan hari ini?”
Pertanyaan itu bukan sekadar kalimat introspektif. Ia pernah dilontarkan ribuan tahun lalu oleh seorang khalifah agung, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat yang termaktub dalam Hilyatul Awliya karya Abu Nu’aim, disebutkan bahwa Umar pernah memukul kedua kakinya sambil berkata kepada dirinya sendiri:
“Mādzā ‘amiltal yauma yā Umar?”
“Apa yang telah engkau perbuat hari ini, wahai Umar?”

Bayangkan, seorang pemimpin besar yang menaklukkan banyak negeri, justru lebih sibuk menaklukkan dirinya sendiri.

Makna Muhasabah di Tengah Dunia yang Serba Cepat


Dalam bahasa Arab, muhasabah berarti “menghitung” atau “menilai diri”. Konsep ini bukan sekadar ajaran klasik, melainkan prinsip hidup yang diajarkan Al-Qur’an dan diperkuat hadis Nabi ﷺ:
“Orang cerdas adalah yang menilai dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)

Menurut Ustaz Dr. Syafiq Riza Basalamah, dosen pascasarjana Universitas Islam Madinah, muhasabah adalah cara seorang Muslim menjaga kualitas spiritual dan mentalnya.

 “Tanpa muhasabah, manusia mudah terjebak dalam zona nyaman ibadah yang stagnan,” ujarnya dalam kanal YouTube resminya.

Fenomena ini terasa sangat relevan di era modern. Rutinitas yang padat membuat kita sering lupa meninjau kembali kualitas amal dan niat. Kita sibuk mengejar target dunia, namun lalai mencatat “laporan jiwa”. Padahal, seperti diingatkan Maimun bin Mahran (ulama tabi’in),

“Seorang hamba tak akan menjadi golongan muttaqin (bertakwa) hingga ia menghisab dirinya lebih ketat daripada seorang pedagang menghitung untung ruginya.”

Dari Sahabat hingga Kini: Kisah-kisah yang Menghidupkan Nurani


Lihat bagaimana para sahabat Nabi ﷺ mencontohkan muhasabah dengan penuh ketulusan.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bahkan meninjau ulang ucapannya menjelang wafat. Ia berkata kepada Aisyah, “Tidak ada orang yang lebih aku cintai daripada Umar.” Lalu ia merenung sejenak dan memperbaikinya: “Tidak ada orang yang lebih aku hormati selain Umar.”

Koreksi kecil, tapi mencerminkan hati yang jujur dan penuh kehati-hatian terhadap makna.

Atau kisah Abu Thalhah, yang shalatnya sempat terganggu oleh burung di kebunnya. Ia menyesal karena hatinya lalai sejenak — lalu bersedekah dengan kebun itu sebagai bentuk tebusan. Bagi mereka, muhasabah bukan sekadar menyesali, tetapi memperbaiki.

Kita dan Cermin Diri Hari Ini


Mungkin kita tak lagi hidup di zaman Umar, tapi kebutuhan untuk muhasabah justru lebih besar hari ini.

Kita hidup di era notifikasi tanpa jeda, di mana keheningan sering kalah oleh dering pesan masuk. Namun justru di tengah riuh itu, muhasabah bisa menjadi oase batin.

Psikolog klinis Universitas Indonesia, Dr. Aulia Fadli, menyebutkan bahwa refleksi diri harian terbukti dapat menurunkan stres dan meningkatkan self-awareness. “Dalam Islam, muhasabah adalah bentuk mindfulness spiritual. Ia menenangkan hati, tapi juga menajamkan arah hidup,” katanya.

Cobalah bertanya jujur pada diri sendiri sebelum tidur:
Apakah hatiku hari ini lebih tenang dari kemarin?

Apakah lisanku lebih lembut?
Apakah niatku lebih bersih dari ambisi duniawi?

Pertanyaan-pertanyaan kecil ini bisa menjadi “audit spiritual” yang menumbuhkan kesadaran.

Kesadaran yang Melahirkan Perubahan


Muhasabah bukan sekadar mengingat dosa atau menyesali masa lalu. Ia adalah seni menata ulang hidup dengan kesadaran penuh. Ibarat cermin, ia tidak menipu: ia memantulkan apa adanya, tapi memberi kesempatan untuk memperbaiki tampilan.

Dan seperti kata Umar bin Khattab, setiap malam adalah kesempatan untuk bertanya,
Apa yang telah aku lakukan hari ini, wahai diriku?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi bisa mengubah arah hidup seseorang.

Jalan Kembali Menuju Jiwa yang Tenang


Pada akhirnya, tujuan dari muhasabah bukan membuat kita takut, melainkan menuntun kita pulang — pulang kepada Allah, dengan wajah bersih dan hati yang tenang.

Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Fajr ayat 27–28:
Wahai jiwa yang tenang,
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.

Mungkin kita tak perlu cambuk seperti Umar untuk menyadarkan diri. Cukup dengan diam sejenak, menatap ke dalam, dan berkata lirih:
“Apa yang telah aku lakukan hari ini?”
Karena perubahan besar selalu dimulai dari satu percakapan kecil — dengan diri sendiri.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Sebelum Dihisab, Mari Belajar Menghisab Diri Sendiri

Iklan