Suluah.id - Di tengah ritme hidup yang semakin cepat, banyak dari kita merasa selalu “sibuk”—meeting tanpa jeda, notifikasi beruntun, tenggat pekerjaan yang menumpuk, dan perbincangan digital yang tak pernah selesai.
Namun ironisnya, di penghujung hari, yang tertinggal justru rasa hampa. Sebuah kekosongan halus yang mengusik: “Apa sebenarnya yang sudah aku lakukan hari ini?”
Fenomena ini bukan sekadar masalah modern. Berabad-abad lalu, Imam Al-Ghazali pernah mencatat sebuah nasihat Rasulullah SAW yang kini terasa makin relevan:
“Tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah ketika ia disibukkan dengan sesuatu yang tidak berguna.”
Pernyataan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi maknanya dalam. Bahwa salah satu “peringatan” terbesar dalam hidup bukanlah musibah besar, melainkan kesibukan yang tidak menambah apa-apa dalam hidup — sekadar rutinitas yang terasa penting, tetapi sesungguhnya kosong.
Kesibukan: Antara Produktivitas dan Ilusi Pencapaian
Sebuah riset dari Harvard Business Review (2022) menyebutkan bahwa lebih dari 60% pekerja merasa “sangat sibuk”, namun hanya 27% yang menilai kesibukannya benar-benar produktif. Bahkan fenomena “busy trap”—sibuk demi terlihat sibuk—menjadi pola mental baru di dunia kerja urban.
Dalam konteks spiritual, kesibukan tanpa arah ini telah lama diperingatkan. Rasulullah SAW bersabda:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(HR. Tirmidzi)
Pesan tersebut sejalan dengan pendapat Ibnul Qayyim yang mengingatkan:
“Jika engkau tidak menyibukkan jiwa dengan kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”
Tidak hanya secara spiritual, para psikolog juga mencatat hal serupa. Dr. Sherry Turkle dari MIT dalam kajiannya mengenai perilaku digital menemukan bahwa manusia modern kerap terjebak dalam “aktivitas mikro tanpa makna”—scrolling, komentar singkat, atau obrolan ringan—yang membuat otak merasa sibuk padahal tidak menghasilkan nilai emosional maupun intelektual.
Mengapa Kesibukan Bisa Menipu?
Al-Qur’an juga telah menyinggung ilusi ini dalam QS. Al-Hadid ayat 20:
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.”
Kesibukan kosong adalah seperti selimut tipis: terasa hangat, tetapi tidak melindungi kita dari hawa dingin kehidupan. Kita merasa sedang bergerak, padahal sebenarnya diam di tempat.
Di sisi lain, kita juga sering menggampangkan dua nikmat penting: kesehatan dan waktu luang. Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Waktu yang tidak dikelola dengan baik akan berlalu begitu cepat, dan malangnya, meninggalkan penyesalan yang panjang.
Hidup Lebih Terarah: Dari Kesibukan ke Kebermanfaatan
Mengurangi kesibukan bukan berarti bekerja lebih sedikit, tetapi bekerja dengan arah, nilai, dan kesadaran. Banyak ahli produktivitas modern menyebut konsep ini sebagai “intentional living”—hidup dengan niat dan kesadaran.
Dalam Islam, konsep ini diterjemahkan sebagai niat dan ibadah dalam setiap aktivitas. Bekerja, belajar, bahkan beristirahat dapat menjadi ibadah selama diarahkan pada tujuan yang benar.
Psikolog klinis Indonesia, dr. A. R. Lubis, Sp.KJ, juga menegaskan bahwa kegiatan yang memiliki makna spiritual atau tujuan jangka panjang akan menurunkan stres hingga 30% lebih efektif dibanding sekadar busy tasks.
Pertanyaan Penting untuk Kita Renungkan
Feature ini bukan ajakan untuk hidup pasif. Justru sebaliknya: ini undangan untuk mengevaluasi ulang.
Apa satu hal yang akan kamu hentikan hari ini, agar esok kamu bisa mengerjakan hal yang benar-benar bermanfaat?
Sebab hati yang sibuk mengingat Allah, kata para ulama, tidak pernah merasa rugi. Justru hati yang sibuk tanpa arah yang perlahan mengering tanpa disadari.
Menutup Hari dengan Kesadaran Baru
Waktu adalah modal hidup yang tidak bisa diisi ulang. Setiap detik yang hilang adalah bagian dari diri kita yang ikut hilang. Karena itu, mengalihkan fokus pada hal-hal yang lebih bermakna bukan hanya pilihan spiritual, tetapi juga kebutuhan mental dan emosional di zaman modern.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhana ini layak kita renungkan:
Apakah hati kita sedang berjalan menuju cahaya, atau justru sibuk berputar-putar dalam remang urusan dunia?
(*)



