Suluah.id - Di Indonesia, kata toleransi sering melayang-layang di ruang publik seperti jargon yang kehabisan makna. Ia disebut dalam pidato, diulang dalam kampanye, bahkan muncul dalam debat warganet—namun tidak selalu dipahami.
Padahal, jauh sebelum istilah ini populer dalam forum-forum global, Islam sudah lebih dulu menanamkan benihnya. Ajaran tentang tasamuh, atau toleransi, bukanlah konsep impor; ia tumbuh dari akhlak dan teladan langsung Rasulullah ﷺ.
Dalam masyarakat yang super-majemuk seperti Indonesia—lebih dari 1.300 kelompok etnik dan enam agama resmi, menurut data BPS dan Kemenag—pemahaman yang tepat tentang toleransi Islami menjadi kunci menjaga ruang hidup bersama.
Akar Teologis: Ketika Perbedaan Itu Sunnatullah
Islam memandang keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai “keunikan desain” ciptaan Tuhan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“…Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
“…Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini, menurut tafsir Ibn Katsir, mengandung pesan bahwa perbedaan manusia adalah bagian dari kehendak Ilahi. Ia hadir bukan untuk memecah, melainkan menguji siapa di antara manusia yang paling bertakwa dan berbuat baik.
Dengan kata lain, keberagaman adalah ruang untuk berlomba menjadi manusia yang lebih baik.
Toleransi ala Rasulullah: Dari Menghormati Jenazah hingga Menjenguk yang Berbeda Keyakinan
Salah satu kisah yang sering dikutip para ulama adalah ketika Rasulullah ﷺ berdiri menghormati iring-iringan jenazah Yahudi yang lewat.
Para sahabat heran, tetapi Rasulullah berkata:
“Bukankah ia juga manusia?” (HR. Bukhari)
“Bukankah ia juga manusia?” (HR. Bukhari)
Kalimat singkat itu seperti tamparan lembut: kemanusiaan tidak berhenti di pagar akidah.
Kisah lain muncul dari riwayat Bukhari: seorang pemuda Yahudi yang bekerja melayani Rasulullah jatuh sakit. Rasulullah datang menjenguknya.
Dalam suasana hening, pemuda itu akhirnya memilih masuk Islam. Rasulullah pun bersyukur karena pemuda itu selamat—bukan karena perbedaan, tetapi karena iman yang ia pilih.
Teladan ini menunjukkan bahwa toleransi dalam Islam bukanlah sekadar “tidak berseteru”, melainkan hadir dalam perhatian kecil yang sangat manusiawi.
Empat Fondasi Toleransi dalam Islam
Para cendekiawan Muslim modern—dari Muhammad Abduh hingga Prof. Quraish Shihab—merangkum prinsip toleransi Islami dalam beberapa pilar utama:
1. Pengakuan atas Pluralitas
Keberagaman adalah takdir Ilahi, bukan penyimpangan.
2. Interaksi Positif dengan Non-Muslim
Selama mereka tidak memerangi umat Islam.
Landasannya jelas:
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil…”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
3. Kesatuan Kemanusiaan
Semua manusia adalah keturunan Adam. Kita bersaudara dalam kemanusiaan.
4. Kemuliaan Manusia
Islam memuliakan manusia terlepas dari agama, ras, atau status sosialnya (QS. Al-Isra: 70).
Prinsip-prinsip ini sejalan dengan laporan Pew Research Center, yang menunjukkan bahwa negara mayoritas Muslim yang menekankan nilai keadilan dan akhlak publik cenderung memiliki skor toleransi sosial yang lebih stabil.
Tetap Ada Batas: Toleransi Tidak Sama dengan Sinkretisme
Sebagaimana dijelaskan banyak ulama fikih, Islam mengatur batas-batas toleransi:
Tidak mencampuradukkan akidah atau ritual ibadah.
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun)
Tidak mengucapkan pernyataan yang mengakui kebenaran teologis agama lain.
Tidak mendoakan keselamatan akhirat bagi yang wafat dalam kekafiran, sesuai ketentuan syariat.
Batasan ini membuat toleransi dalam Islam bersifat tegas namun tetap berkeadaban. Seimbang antara prinsip dan penghormatan.
Fathu Makkah: Ketika Kemenangan Tidak Melahirkan Dendam
Jika ada momen sejarah yang paling sering dijadikan contoh toleransi dalam Islam, Fathu Makkah adalah yang paling agung. Saat kota yang pernah mengusir, menghina, dan menyerangnya jatuh ke tangan Muslim, Rasulullah ﷺ tidak membalas dendam. Beliau justru berkata:
“Pergilah, kalian bebas.”
Prof. Karen Armstrong, sejarahwan agama terkemuka, menyebut momen ini sebagai “salah satu aksi rekonsiliasi paling elegan dalam sejarah manusia.”
Toleransi ala Nusantara: Dari Pesantren hingga Ruang Publik
Indonesia punya sejarah panjang perjumpaan damai antaragama. Penelitian LIPI (2020) mencatat bahwa interaksi sosial sehari-hari—gotong royong, kenduri kampung, hingga kerja sama tanggap bencana—adalah bentuk toleransi paling nyata.
Dalam praktik hidup bernegara, nilai toleransi Islami dapat diwujudkan melalui:
saling menghormati tempat ibadah,
menjaga keamanan bersama,
bekerja sama dalam urusan kemanusiaan,
merawat ruang sosial tanpa prasangka,
dan memastikan setiap warga negara memiliki hak yang sama.
Hal-hal kecil seperti memberi ruang parkir saat hari keagamaan tertentu, atau melapangkan jalan bagi prosesi adat, justru memperkuat jalinan kebangsaan.
Menutup: Toleransi yang Berkeadilan
Toleransi dalam Islam bukan toleransi “serba boleh”, melainkan toleransi yang berkeadilan—yang menjaga keyakinan, namun tetap merangkul kemanusiaan. Nabi bersabda:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Ahmad)
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Ahmad)
Inilah pesan yang relevan untuk Indonesia hari ini:
Toleransi bukan cuma hidup berdampingan, tetapi saling menghormati tanpa kehilangan jati diri.
Jika nilai ini hidup di setiap keluarga, sekolah, masjid, dan ruang publik, bukan mustahil kita benar-benar bisa mewujudkan cita-cita itu:
baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur — negeri yang baik, yang diberkahi.
(*)



