Suluah.id - Dalam beberapa hari terakhir, Sumatera Barat kembali berhadapan dengan kenyataan pahit: banjir, longsor, dan galodo yang menerjang berbagai wilayah.
Di balik riuh sirene peringatan dini dan berita foto rumah hanyut, ada satu pertanyaan yang menggema di benak banyak orang: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan alam kita?
Fenomena cuaca ekstrem yang melanda kawasan barat Sumatra bukan muncul tiba-tiba. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 95B sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh dan Selat Malaka.
Sistem ini menunjukkan peningkatan intensitas, memicu pertumbuhan awan cumulonimbus secara luas—jenis awan tebal berwarna kelabu yang sering menjadi “biang kerok” hujan ekstrem.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebutkan bahwa wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatera Barat, hingga Riau masuk kategori waspada. “Bibit siklon ini memperkuat konveksi, sehingga potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi meningkat signifikan,” ujarnya dalam konferensi pers BMKG.
Data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dalam laporan triwulan terakhir juga menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem menjadi penyebab utama 88 persen kejadian banjir dan longsor sepanjang tahun ini.
Perubahan tata guna lahan, deforestasi, dan penurunan kualitas sungai memperburuk dampaknya.
Namun di luar hitungan meteorologi, musibah ini mengetuk sisi lain kehidupan: hati dan kesadaran kita.
Namun di luar hitungan meteorologi, musibah ini mengetuk sisi lain kehidupan: hati dan kesadaran kita.
Musibah Bukan Sekadar Angka: Sebuah Ajakan untuk Berkaca
Dalam tradisi Islam, bencana tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai ruang merenung.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Musibah menguji ketahanan batin, bukan hanya ketahanan fisik. Di saat sebagian masyarakat berjibaku membersihkan rumah dari lumpur, sebagian lainnya sibuk membuka dapur umum, dan sebagian lain mengumpulkan donasi, kita melihat betapa kuatnya budaya saling menjaga dalam komunitas Sumatera Barat.
Ketika Alam Menuntut Balik
Fenomena cuaca ekstrem adalah bagian dari sunnatullah, hukum alam yang berjalan konsisten.
Namun Al-Qur’an juga memberi pesan:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri...”
(QS. Asy-Syura: 30)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri...”
(QS. Asy-Syura: 30)
Pertanyaannya menohok:
Apakah kita sudah menjaga bumi dengan layak?
Deforestasi di hulu sungai, bangunan yang menutup daerah resapan, sampah yang menumpuk di aliran air—semuanya memperparah potensi bencana. BNPB mencatat bahwa lebih dari 50% banjir bandang di Indonesia berhubungan dengan perubahan tutupan lahan di daerah hulu.
Bencana ini seakan menjadi alarm keras bahwa lingkungan bukan sekadar latar tempat tinggal kita, tetapi amanah yang wajib dipelihara.
Sikap Seorang Muslim di Tengah Ujian
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang menerima suka, tetapi juga mengelola duka.
“Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur; jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar.”
(HR. Muslim)
Di banyak titik pengungsian, kita bisa melihat ajaran ini hidup dalam tindakan:
• warga bergotong royong menyiapkan makanan,
• masjid-masjid membuka pintu sebagai tempat aman,
• relawan bergerak tanpa menunggu komando.
Musibah bukan hanya datang membawa luka, tetapi juga solidaritas.
Ikhtiar Nyata: Bukan Sekadar Pasrah
Di tengah peringatan BMKG bahwa 95B berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam, ada beberapa langkah yang harus diperhatikan masyarakat:
● Waspada terhadap potensi banjir susulan dan longsor
● Menghindari perjalanan laut saat gelombang mencapai 2,5–4 meter
● Memperhatikan peringatan dini dari BMKG dan BPBD
● Memperkuat solidaritas sosial—membantu tetangga, relawan, dan keluarga terdampak
Islam sendiri menegaskan:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Berdoa itu wajib.
Tapi memastikan keselamatan diri juga perintah agama.
Doa, Istighfar, dan Harapan yang Menguatkan
Di antara semua ikhtiar fisik, ada satu amalan yang sering menjadi pegangan Muslim ketika bencana datang: memperbanyak istighfar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah memberi jalan keluar dari setiap kesempitan...”
(HR. Ahmad)
Istighfar bukan hanya permohonan ampun, tetapi juga cara menenangkan hati yang sedang lelah oleh situasi sulit.
Saatnya Bangkit Bersama
Musibah banjir, longsor, dan galodo yang melanda Sumatera Barat bukan hanya kisah sedih. Ia adalah cerita tentang ketangguhan masyarakat, tentang alam yang sedang mengirim pesan, dan tentang perlunya keseimbangan antara ikhtiar duniawi serta kekuatan spiritual.
Semoga saudara-saudara kita di daerah terdampak diberi kekuatan.
Semoga negeri ini terhindar dari bencana yang lebih besar.
Dan semoga kita semua semakin bijak menjaga bumi—rumah besar kita bersama.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin..
(*)



