Suluah.id - Tidak ada manusia yang benar-benar kuat. Kita bisa saja berdiri tegap di hadapan dunia, tersenyum seolah semua baik-baik saja, namun di balik dada setiap orang ada rapuh yang disembunyikan rapi.
Hidup tampak panjang dan stabil — sampai kenyataan datang mengingatkan bahwa kepastian hanya milik Dia yang menggenggam waktu.
Kita sering terlena menyangka bahwa perjalanan hidup akan selalu bersahabat.
Padahal, seperti yang diingatkan dalam firman Allah yang begitu lembut namun mengetuk kesadaran:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Ayat ini menggeser cara kita memandang kenyataan. Ia membongkar asumsi lama bahwa ujian selalu datang dalam rupa kesedihan. Kita lupa bahwa kelapangan, rezeki, kenyamanan, dan gelombang pujian, bisa menjadi ujian yang jauh lebih sunyi — karena ia datang tanpa peringatan.
Banyak orang tersandung bukan oleh kesulitan, tetapi oleh kemudahan.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai comfort trap — jebakan kenyamanan yang membuat manusia lengah, berhenti berkembang, dan kehilangan arah.
Penelitian Harvard (Grant & Schwartz, 2018) bahkan menemukan bahwa manusia lebih sering kehilangan kendali emosional saat berada dalam puncak keberhasilan daripada ketika sedang jatuh.
Tidak heran, Nabi Muhammad SAW mengingatkan dalam sabdanya:
“Dunia itu manis dan hijau. Dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelola di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal.”
(HR. Muslim)
Sabda ini tidak memusuhi dunia. Ia hanya menegaskan bahwa dunia adalah lahan ujian, bukan tujuan akhir.
Menguji Hati, Bukan Menghancurkan
Ulama besar Ibn Ata’illah As-Sakandari menulis dengan bahasa yang halus namun menghunjam:
“Siapa yang mengenal hakikat ujian, maka ringan baginya beban musibah.”
Kita kemudian belajar bahwa yang berat bukanlah cobaan itu sendiri. Yang berat adalah hati yang menolak mengambil pelajaran, yang mengira kejadian hidup hanyalah kebetulan, bukan pendidikan jiwa.
Ujian hadir bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyingkap lapisan demi lapisan diri kita:
Apakah kita bersyukur ketika diberi kemudahan?
Apakah kita bersabar ketika kesulitan mengetuk pintu?
Apakah kita tetap jernih ketika diberi kuasa, harta, dan pujian?
Keduanya — suka dan duka — adalah ruang belajar. Dalam tradisi Islam, proses ini disebut tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, sebuah perjalanan panjang menuju ketangguhan batin.
Hidup Bukan Sekadar Singgah
Pada akhirnya, ayat itu mengingatkan kita bahwa kita semua sedang menuju pulang. Hidup bukan sekadar lintasan tanpa arah. Ia adalah ruang pendidikan yang mematangkan jiwa, agar kita kembali dengan hati yang lebih bening dan pemahaman yang lebih dewasa.
Kita mungkin tidak selalu menang dalam perjalanan ini. Namun, kita selalu bisa memilih untuk menjadi manusia yang belajar.
Karena dari setiap ujian — dalam bentuk kesedihan maupun kelapangan — ada pesan lembut yang mengajak kita mengenal Tuhan lebih dekat.
Dan mungkin, justru disitulah kemenangan sejati bermula.
(*)



