Iklan

Kenikmatan yang Singkat, Penyesalan yang Panjang: Mengapa “Larangan” Selalu Tampak Menggoda?

26 November 2025, 08:06 WIB


Suluah.id -Dalam gerak cepat kehidupan modern, manusia sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tampak mudah namun membawa konsekuensi panjang. 

Godaan melakukan sesuatu yang “haram”, “melanggar norma”, atau “tidak seharusnya”, selalu saja hadir dengan bungkus manis: kenikmatan sesaat.

Sebenarnya, pesan ini bukan hal baru. Sejak ratusan tahun lalu, ulama dan para ahli etika telah mengingatkan manusia bahwa apa pun yang sifatnya melanggar aturan — agama, hukum, atau moral — hanya memberikan kepuasan sementara

Sebuah syair klasik Arab bahkan merangkum hal itu dengan indah:
Hilang kenikmatan dari orang yang merasakannya dari perkara haram,
yang tersisa hanyalah dosa dan rasa malu.
Tersisa dampak buruk dan konsekuensinya.
Tidak ada kebaikan pada kenikmatan yang akhirnya membawa pada api neraka.

Syair ini banyak dikutip dalam literatur etika Islam karena sarat pesan moral: nikmatnya sesaat, akibatnya panjang.

Kenapa Kenikmatan Sesaat Begitu Menggoda?


Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai instant gratification atau kebutuhan untuk merasakan kesenangan secara cepat tanpa memikirkan dampak jangka panjang.

Dr. Walter Mischel, dalam eksperimen Marshmallow Test yang terkenal (Stanford University, 1972), menunjukkan bahwa kemampuan untuk menunda kesenangan berkaitan erat dengan kesuksesan seseorang dalam hidup. Mereka yang sanggup menahan diri terbukti lebih stabil secara emosional, lebih sehat, dan lebih sukses di masa dewasa.

Artinya, bukan hanya agama yang memperingatkan kita—ilmu pun setuju.

Nikmat yang Cepat Hilang, Konsekuensi yang Tidak Cepat Pergi


Dalam konteks keagamaan, para ulama menjelaskan bahwa maksiat memang memberikan “sensasi”, tetapi hanya dalam durasi pendek: hitungan detik, menit, atau jam. 

Namun dampaknya bisa jauh lebih lama:
  • Rasa bersalah
  • Kerusakan hubungan sosial
  • Reputasi yang ternoda
  • Hilangnya ketenangan batin
  • Kesulitan yang menyusul sebagai bentuk ujian

Dalam perspektif spiritual, banyak cendekiawan muslim menekankan bahwa kemaksiatan membuka pintu bagi berbagai musibah atau kehilangan keberkahan hidup (barakah). 

Imam Ibn al-Qayyim, misalnya, menjelaskan bahwa “maksiat menghapus cahaya hati”, sebuah metafora untuk hilangnya kejernihan batin dan arah hidup.

Renungkan Sebelum Melangkah


Setiap orang pernah berada pada titik dilema antara keinginan dan larangan. Namun, sebagaimana para ulama berpesan, orang yang “ditolong” oleh Tuhan adalah mereka yang selalu mengingat betapa singkatnya hidup dan betapa panjangnya kehidupan akhirat.

Kesadaran ini menjadi alat kontrol diri yang sangat kuat. Dalam etika Islam, ini disebut taufik — kemampuan seseorang untuk cenderung kepada kebaikan dan menjauhi kerusakan.

Mengapa Tema Ini Penting Hari Ini?


Di era digital, godaan bukan lagi datang dari sekitar, tetapi masuk ke ruang pribadi kita lewat layar ponsel. Konsumsi konten negatif, perilaku impulsif, hingga tindakan ilegal digital, semuanya tersedia dalam satu ketukan. Karena itu, pesan moral klasik ini menjadi semakin relevan.

Organisasi kesehatan mental dunia (WHO) bahkan menyebut bahwa impulsivitas digital menjadi salah satu pemicu meningkatnya stres, kecemasan, dan depresi.

Dengan kata lain, menahan diri kini bukan lagi sekadar urusan moral atau agama, tetapi juga bentuk investasi kesehatan jangka panjang.

Jalan Pendek Selalu Menggoda, Tapi Tidak Selalu Selamat


Hidup selalu menawarkan dua jalan: yang cepat menyenangkan atau yang perlahan membahagiakan.

Syair lama tadi mengingatkan kita bahwa tidak ada kebaikan pada kenikmatan yang berakhir pada penyesalan. Dan memilih untuk berhenti sebelum melangkah pada sesuatu yang keliru adalah bagian dari membenahi jiwa dan memperbaiki arah hidup.

Karena pada akhirnya, kesenangan sesaat tidak pernah cukup untuk menutupi kerugian yang panjang.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Kenikmatan yang Singkat, Penyesalan yang Panjang: Mengapa “Larangan” Selalu Tampak Menggoda?

Iklan