Suluah.id - Dalam diskusi soal kepemimpinan, sering terdengar ungkapan populer: “Tunjukkan siapa orang terdekatmu, maka aku tahu bagaimana kualitasmu.”
Rupanya, gagasan itu bukan hal baru. Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah SAW telah menggarisbawahi pentingnya “lingkaran pertama”—orang-orang yang berada paling dekat dengan seorang pemimpin.
Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari ini menjadi salah satu rujukan klasik tentang bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana seorang pemimpin bisa bertahan dalam arus godaan yang menghampirinya setiap hari.
Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi atau mengangkat seorang pemimpin, melainkan ia memiliki dua kelompok penasihat: yang mendorongnya kepada kebaikan dan yang menjerumuskannya pada keburukan. Orang yang selamat adalah yang dijaga oleh Allah.” (HR. Bukhari)
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi atau mengangkat seorang pemimpin, melainkan ia memiliki dua kelompok penasihat: yang mendorongnya kepada kebaikan dan yang menjerumuskannya pada keburukan. Orang yang selamat adalah yang dijaga oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hadits ini tidak hanya relevan dalam kehidupan pemerintahan, tetapi juga terasa aktual di tengah dinamika sosial-politik Indonesia saat ini.
Apa Itu “Bithanah”? Versi Klasik dari “Ring Satu”
Dalam tradisi keilmuan Islam, bithanah berarti orang-orang terdekat yang mengetahui rahasia pemimpin. Jika diterjemahkan ke konteks modern, mereka adalah:
- Staf ahli
- Penasihat khusus
- Anggota kabinet
- Orang kepercayaan yang menjadi rujukan utama dalam keputusan penting
Secara historis, sahabat Abu Sa’id al-Khudri yang meriwayatkan hadits ini dikenal sebagai Mufti Madinah dan salah satu ulama besar generasi sahabat. Riwayatnya yang mencapai seribuan menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang pesan moral dan sosial dalam ajaran Islam.
Mengapa Hadits ini Penting untuk Kita Hari Ini?
1. Kepemimpinan adalah Amanat, Bukan Panggung
Dalam literatur klasik seperti Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi, pemimpin memiliki dua tugas besar:
menjaga agama dan mengatur urusan publik.
Dalam bahasa kini: menjaga nilai moral publik dan mengelola tata kelola pemerintahan.
Rasulullah SAW pernah menegaskan:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Pesan ini menyiratkan bahwa pemimpin bukanlah sosok “untouchable”, tetapi pengemban mandat publik.
2. Kualitas Negara Ditentukan oleh Kualitas “Ring Satu”
Hadits ini menekankan dua tipe penasihat:
• Bithanatul Khair — Penasihat Kebaikan
Mereka adalah sosok yang punya dua kualitas kunci:
Integritas (al-amanah)
Kompetensi (al-quwwah)
Mereka mengingatkan ketika pemimpin salah arah dan mendorongnya mengambil kebijakan yang menyejahterakan rakyat.
Dalam banyak catatan sejarah, tokoh seperti Umar bin Abdul Aziz selalu dikelilingi penasihat berintegritas tinggi—ulama dan cendekiawan yang menjadi check and balance alami.
• Bithanatus Syarr — Penasihat Buruk
Inilah tipe yang mendorong ambisi pribadi, menggunakan kedekatan untuk keuntungan sempit, atau memengaruhi kebijakan demi kelompok tertentu.
Di era modern, kita mengenalnya sebagai “lingkaran toxic”:
Di era modern, kita mengenalnya sebagai “lingkaran toxic”:
mereka yang memoles realitas, menyembunyikan fakta, dan membuat pemimpin kehilangan koneksi dengan rakyat.
3. Prinsip Memilih Orang Terdekat: Kuat dan Amanah
Pelajaran ini ditegaskan ulang dalam Al-Qur’an, melalui kisah putri Nabi Syuaib yang menilai karakter Nabi Musa:
“…Sesungguhnya orang terbaik yang engkau pekerjakan adalah yang kuat dan dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)
Artinya, kompetensi saja tidak cukup bila tanpa integritas—dan integritas tanpa kemampuan juga tidak membawa hasil.
4. Nasihat kepada Pemimpin Adalah Bagian dari Cinta Tanah Air
Rasulullah SAW bersabda:
“Agama adalah nasihat … untuk para pemimpin dan umat Islam pada umumnya.” (HR. Muslim)
Namun, para ulama menekankan bahwa nasihat harus diberikan dengan cara yang santun, tertutup, dan bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.
Di negara demokrasi seperti Indonesia, ruang kritik dan masukan terbuka luas—mulai dari lembaga legislatif, media, akademisi, hingga masyarakat sipil. Tetapi kualitas kritik tetap perlu menjaga etika dan tidak melemahkan institusi.
Tak Hanya untuk Presiden—Semua Orang Punya “Bithanah”
Meski konteks hadits ini tentang pemimpin negara, pesan moralnya berlaku untuk semua level:
- Pemimpin organisasi
- Kepala sekolah
- Penggerak komunitas
- Ayah dalam keluarga
- Bahkan individu dalam lingkaran pertemanannya
Psikolog modern menegaskan hal yang sama: lingkungan terdekat adalah penentu utama perilaku seseorang. Studi Harvard Center for Leadership menunjukkan bahwa 60–70% keputusan strategis pemimpin dipengaruhi oleh staf inti dan penasihat terdekatnya.
Pelajaran untuk Bangsa
Dalam suasana sosial-politik yang cepat berubah, hadits ini bisa menjadi panduan moral:
Pemimpin harus bijak memilih orang terdekat, bukan sekadar yang loyal tetapi yang jujur.
Rakyat berhak dan wajib memberi masukan yang konstruktif.
Semua pihak perlu membangun budaya kepemimpinan yang sehat—yang menyeimbangkan kekuasaan dan kebijaksanaan.
Kepemimpinan yang kuat hanya lahir dari al-quwwah (kompetensi) dan al-amanah (integritas)—dua pilar yang tidak pernah lekang oleh zaman.
Hadits ini bukan sekadar pesan moral keagamaan, tetapi pedoman etika kepemimpinan yang universal: bahwa kekuasaan rentan, dan kualitas penasihat menentukan arah bangsa.
Dalam konteks Indonesia yang tengah membangun demokrasi, pesan ini terasa semakin relevan. Ia mengingatkan pemimpin untuk bijak memilih lingkaran dekatnya, dan masyarakat untuk terus menjadi suara kebaikan.
Wallahu a’lam.
(*)



