Suluah.id - Di tengah dunia yang serba cepat, di mana notifikasi ponsel berdentang tiap menit dan ekspektasi hidup terasa kian tinggi, sabar menjadi barang langka.
Tapi tahukah kita, nilai sabar justru menjadi “fondasi emas” dalam ajaran Islam—sebuah konsep yang dibahas mendalam dalam kitab klasik legendaris Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi.
Kitab ini bukan sekadar kumpulan hadis. Ia adalah panduan hidup yang dirangkai dengan penuh cinta oleh ulama besar abad ke-13 itu—Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi, yang dikenal dengan gelar Muhyiddin, sang “penghidup agama”.
Dalam setiap bab, Imam An-Nawawi tak pernah lupa membuka dengan ayat-ayat Al-Qur’an sebelum menyertakan hadis Nabi. Sebuah tanda bahwa ajaran Islam selalu berpijak dari sumber utama: wahyu dan teladan Rasulullah.
Salah satu bab yang paling menyentuh adalah Bab As-Sabr, atau bab tentang kesabaran. Di sinilah, konsep sabar tidak sekadar diartikan sebagai “menahan emosi”, tetapi sebagai seni menghadapi hidup.
Sabar, Separuh Iman yang Menenangkan
Rasulullah pernah bersabda, “Sabar adalah separuh dari iman.” (HR. Tirmidzi).
Ungkapan ini sederhana, tapi maknanya dalam. Sebab, iman tidak hanya tentang ketaatan, tetapi juga tentang keteguhan hati.
Menjalankan perintah Tuhan butuh sabar. Menahan diri dari dosa pun butuh sabar. Bahkan, untuk tidak menyerah di tengah cobaan hidup pun, sabar adalah bahan bakarnya.
Peneliti tafsir dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta, Ustaz Ahmad Muzakki, menjelaskan bahwa kata sabar dalam Al-Qur’an muncul lebih dari 100 kali.
“Itu bukan angka kecil. Artinya, Allah menempatkan sabar sebagai tema yang sangat sentral dalam perjalanan spiritual manusia,” katanya kepada Republika (2023).
Tiga Lapisan Sabar dalam Al-Qur’an
Dalam surah Ali ‘Imran ayat 200, Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga, serta bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Ayat ini, kata Imam An-Nawawi, bukan hanya ajakan moral, melainkan tahapan pembentukan karakter.
Pertama, sabar dalam menerima ujian. Kedua, sabar dalam berkompetisi kebaikan. Ketiga, sabar dalam menjaga konsistensi iman di tengah godaan dunia.
Menurut Tafsir Al-Muyassar (Kementerian Agama Saudi, 2018), sabar bukan sekadar diam pasrah, melainkan aktif bertahan—berjuang tanpa kehilangan arah. Maka, sabar bukan sifat orang lemah, tetapi tanda kekuatan batin.
Sabar dan Syukur: Dua Sayap Hidup Bahagia
Hidup, kata Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, selalu berputar antara dua keadaan: diberi nikmat dan diuji.
Ketika mendapat nikmat, bersyukurlah; ketika diuji, bersabarlah. “Dua hal itu seperti dua sayap burung, tidak bisa terbang jika salah satunya patah,” tulisnya dalam Madarijus Salikin.
Dan betapa indahnya prinsip ini.
Dan betapa indahnya prinsip ini.
Dengan dua kunci itu—sabar dan syukur—seorang muslim bisa hidup tenang meski keadaan berubah-ubah. Ia tak akan tenggelam dalam kesedihan, dan tak akan mabuk dalam kebahagiaan.
Hadis-Hadis yang Menghidupkan Jiwa
Imam An-Nawawi memuat 29 hadis dalam bab sabar, masing-masing memberi perspektif yang menyentuh. Salah satunya diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Sabar adalah cahaya.”
“Sabar adalah cahaya.”
Cahaya yang dimaksud bukan sekadar penerang jalan, tapi sinar yang lahir dari dalam diri.
Sabar membuat hati tetap tenang di tengah badai, seperti pelita kecil di ruang gelap. Ia tak selalu mengubah keadaan, tapi mengubah cara kita memandang keadaan.
Hadis lain menegaskan keajaiban hidup seorang mukmin:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Pesan ini seolah berkata: tak ada yang sia-sia dalam hidup orang beriman. Bahkan air mata pun bisa bernilai pahala jika diteteskan dengan sabar.
Ketika Musibah Menjadi Ujian Cinta
Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)
Bagi sebagian orang, ini terdengar kontradiktif. Tapi sejatinya, musibah adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang menyamar. Ia datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menguatkan.
Psikolog Islam dari Universitas Indonesia, Dr. Aisyah Rahmah, mengatakan dalam jurnal Psikologi Religi (UI, 2022), “Sabar bukan reaksi pasif, tapi mekanisme penyembuhan psikologis.
Orang yang sabar memiliki daya lenting (resilience) lebih tinggi dan kemampuan pulih lebih cepat.”
Maka, setiap kali kita mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”—“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami kembali”—itu bukan kalimat pasrah, melainkan pernyataan keimanan yang sangat kuat.
Belajar Sabar di Zaman Serba Instan
Di era digital, sabar menjadi ujian baru. Kita terbiasa ingin semua cepat: pesan datang langsung dibalas, hasil kerja harus instan, doa ingin segera dikabulkan.
Padahal, dalam “ekonomi spiritual” Islam, kesabaran adalah investasi jangka panjang.
Sebuah riset dari Pew Research Center (2021) menunjukkan, masyarakat yang memiliki kebiasaan refleksi spiritual—termasuk membaca kitab klasik dan berzikir—memiliki tingkat stres lebih rendah dan kebahagiaan lebih tinggi.
Artinya, sabar bukan sekadar konsep religius, tapi juga terapi jiwa yang terbukti ilmiah.
Menutup dengan Renungan
Sabar bukan hanya menahan diri dari marah. Ia adalah seni menunggu dengan tenang, menerima dengan lapang, dan melangkah dengan yakin.
Seperti pepatah Arab, “As-shabru miftahul faraj” — sabar adalah kunci dari setiap jalan keluar.
Imam An-Nawawi menulis Riyadhus Shalihin lebih dari 700 tahun lalu.
Imam An-Nawawi menulis Riyadhus Shalihin lebih dari 700 tahun lalu.
Namun, setiap lembar kitab itu terasa masih hidup. Ia mengajarkan kita cara menjadi manusia yang kuat di tengah dunia yang sibuk.
Karena di balik setiap ujian, selalu ada ruang untuk tumbuh — dan di balik setiap sabar, selalu ada cahaya yang menunggu untuk bersinar.
(*)



