JAKARTA — Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang ditandai oleh volatilitas komoditas, konflik geopolitik, dan guncangan pasar keuangan, pengelolaan finansial yang cerdas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.
Hal ini menjadi benang merah pembahasan dalam podcast The Cuan IDX Channel yang menghadirkan Theo Derick, seorang entrepreneur, kreator konten, dan penulis mega bestseller, sebagai narasumber utama.
Kaya Itu Proses, Bukan Kejadian Tiba-Tiba
Theo menegaskan bahwa fondasi dari seluruh strategi keuangan bertumpu pada satu pemahaman mendasar: kekayaan adalah sebuah perjalanan yang bertahap, bukan lompatan instan.
"Hidup itu harus bertambah kaya, bukan tiba-tiba jadi kaya."
Dari prinsip ini, ia merumuskan tiga langkah utama dalam membangun keuangan yang sehat, yakni meningkatkan earnings power, membangun kebiasaan finansial yang tepat, dan baru kemudian masuk ke ranah investasi.
Langkah Pertama: Tingkatkan Earnings Power Lewat Side Hustle
Theo tidak menampik bahwa gaji UMR memang terasa berat, terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga. Namun, ia menekankan bahwa keterbatasan gaji pokok bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik awal untuk berkreasi.
Kuncinya ada pada side hustle — penghasilan tambahan yang digali dari sumber daya dan peluang yang sudah ada di sekitar.
Ia mencontohkan salah satu karyawannya sendiri, seorang videografer yang digaji sekitar Rp7,5 juta per bulan, namun mampu membawa pulang total pendapatan antara Rp18 juta hingga Rp20 juta per bulan.
Caranya? Sang karyawan aktif mengambil pekerjaan tambahan seperti clipping konten podcast untuk media sosial hingga membantu syuting kerja sama dengan merek tertentu — semua masih dalam ekosistem pekerjaannya.
"Sebuah pekerjaan UMR, di sekelilingnya tetap ada peluang lain yang harus kita garap sesuai dengan tempat kita di sana. Tidak ada jalan lain untuk bertambah kaya selain meningkatkan earnings power terlebih dahulu."
Theo mendorong siapa pun untuk jeli melihat potensi di lingkungan kerja masing-masing. Seorang karyawan kantoran bisa memanfaatkan rekan kerja sebagai pasar potensial — misalnya, menjual kue buatan anggota keluarga menjelang hari raya, atau menyediakan minuman bergizi bagi sesama anggota gym.
Menurutnya, pendapatan Rp20 juta hingga Rp25 juta per bulan masih sangat mungkin diraih dengan strategi side hustle yang tepat.
Langkah Kedua: Bangun Kebiasaan, Bukan Sekadar Pengetahuan
Theo dengan tegas membedakan antara memahami teori keuangan dan benar-benar mempraktikkannya.
"Manajemen keuangan itu bukan ilmu, melainkan kebiasaan. Satu juta orang tahu bahwa uang harus diatur. Tapi berapa yang benar-benar mengaturnya?"
Ia menggunakan analogi sederhana namun mengena: seperti kebiasaan mandi dan sikat gigi setiap pagi yang tidak lagi membutuhkan pengingat, pengelolaan keuangan pun harus menjadi refleks otomatis.
Sistem yang ia anjurkan adalah mengedepankan tabungan begitu gaji masuk, bukan menabung dari sisa pengeluaran.
Dana Darurat dan Proteksi: Fondasi yang Tidak Bisa Ditawar
Setelah arus kas mulai surplus, Theo menyarankan agar langkah pertama bukan langsung berinvestasi, melainkan membangun dana darurat terlebih dahulu — idealnya senilai empat hingga enam bulan pengeluaran.
Bagi mereka yang menanggung kebutuhan orang tua (sandwich generation), ia bahkan merekomendasikan dana darurat senilai 8 hingga 15 kali pengeluaran bulanan.
Dana darurat, ia klarifikasi, bukan untuk keperluan sepele. Fungsinya spesifik: sebagai bantalan ketika arus pemasukan terganggu, misalnya akibat pemutusan hubungan kerja atau pemotongan gaji.
Dana darurat, ia klarifikasi, bukan untuk keperluan sepele. Fungsinya spesifik: sebagai bantalan ketika arus pemasukan terganggu, misalnya akibat pemutusan hubungan kerja atau pemotongan gaji.
"Dana darurat itu untuk menjaga. Kalau kamu tiba-tiba kena lay off dan gajimu terpotong, kamu bisa memakai itu dulu sampai mendapatkan pemasukan kembali."
Di samping itu, Theo juga menekankan pentingnya asuransi kesehatan sebagai perisai finansial. Ia mengilustrasikannya dengan pengalaman nyata: biaya rawat inap tiga hari di rumah sakit bisa mencapai Rp32 juta — sebuah angka yang dapat melenyapkan tabungan dan THR sekaligus jika tidak ada proteksi yang memadai.
Lima Tangga Menuju Financial Freedom
Theo memaparkan kerangka lima level kondisi finansial seseorang, dari yang paling rentan hingga paling ideal:
- Financial Dependent — Penghasilan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sendiri, sehingga terpaksa berutang.
- Solvency — Sudah bisa menghidupi diri sendiri dan mulai ada surplus arus kas secara konsisten.
- Financial Stability — Memiliki dana darurat, proteksi, dan kebiasaan surplus yang terbangun.
- Financial Security — Aset investasi menghasilkan passive income yang cukup untuk menutup biaya hidup bulanan.
- Financial Freedom — Passive income mampu menanggung seluruh gaya hidup dan kebutuhan hidup secara realistis.
Self Reward Boleh, Asal Dibudgetkan
Merespons tren self reward di kalangan anak muda, Theo tidak langsung menghakimi. Ia justru menyampaikan pendekatan yang lebih seimbang: self reward diperbolehkan, asalkan masuk dalam anggaran yang sudah direncanakan.
Ia menganalogikan diri sebagai seorang manajer investasi (hedge fund manager) yang mengelola aset klien. Seorang manajer berhak mengambil fee atas pengelolaan yang baik — dan itulah posisi self reward dalam ekosistem keuangan pribadi.
Yang tidak dibenarkan adalah menghabiskan seluruh "aset kelolaan" tanpa sisa.
Investasi: Modal Besar, Bukan Imbal Hasil Besar
Menutup sesi dengan pandangan kritisnya tentang investasi, Theo menyoroti kesalahpahaman umum yang banyak beredar, terutama di kalangan anak muda yang terpapar konten finansial di media sosial.
"Di Indonesia, orang suka lupa bahwa modal besar dengan imbal hasil kecil pun hasilnya tetap besar. Kita selalu disuguhi narasi modal kecil, imbal hasil besar."
Ia mengingatkan bahwa investasi bukanlah game changer universal. Keberhasilan seseorang di pasar saham, misalnya, kerap didukung oleh faktor ekosistem, jaringan, dan pengetahuan yang tidak dimiliki semua orang.
Theo juga meninggalkan pesan penting bagi investor muda sebagai penutup diskusi:
"Terlalu banyak orang yang mengejar momentum, dan akhirnya hanya sempat kaya. Kalau kamu mau kaya, kamu juga harus qualify menjadi orang kaya — karena kekayaan sejati bukan soal menangkap momen, tapi soal bagaimana kamu mengelola momen itu."(*)


