Iklan

Rupiah Terjepit di Rp17.300-an: Efek Domino Minyak Mahal, Dolar Menguat, dan Strategi Bertahan BI

24 April 2026, 18:27 WIB



Suluah.id - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan. Pagi ini, Jumat (24/4/2026), rupiah di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF) stagnan di kisaran Rp17.313/US$, setelah sehari sebelumnya melemah 0,4%. Kondisi ini menjadi sinyal penting: pasar global masih bersikap “waspada”, belum berani mengambil risiko besar.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bayangkan ekonomi global seperti lautan. Ketika harga minyak naik—kali ini minyak Brent melonjak ke US$106,26 per barel—ombaknya ikut membesar. Negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia pun ikut terguncang.

Kenaikan harga minyak mendorong penguatan dolar AS (indeks di 98,8), yang kemudian menekan mata uang Asia. Won Korea Selatan melemah 0,28%, ringgit Malaysia 0,14%, dan baht Thailand 0,1%. Hanya beberapa mata uang seperti dolar Singapura dan yen Jepang yang mampu bertahan tipis.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Asia sedang “setengah matang”. Inflasi mulai naik, tapi pertumbuhan belum solid. Jepang masih menahan suku bunga meski inflasi meningkat. China menunjukkan perlambatan permintaan domestik, walau ekspor tetap kuat. Sementara Korea Selatan dan Taiwan masih ditopang lonjakan permintaan semikonduktor untuk industri kecerdasan buatan (AI).

Bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia (BI) memilih menahan suku bunga di 4,75%. Artinya, era suku bunga tinggi masih bertahan. BI tetap optimistis, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 4,7%–5,7% pada 2026, dengan inflasi terjaga di 1,5%–3,5%.

Untuk menjaga rupiah, BI melakukan intervensi di berbagai pasar: NDF offshore, spot, hingga DNDF domestik. Bahkan, BI memperluas instrumen valas termasuk transaksi yuan offshore. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kepercayaan pasar.

Faktanya, tekanan masih terasa. Nilai tukar di perbankan bahkan sempat menyentuh Rp17.500/US$. Ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung defensif.

Secara teknikal, rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp17.300–Rp17.500/US$. Level Rp17.200 menjadi batas psikologis untuk penguatan, sementara risiko pelemahan masih terbuka.

Tips untuk masyarakat dan investor:
  • Hindari panik, fokus pada kebutuhan riil.
  • Diversifikasi aset, jangan hanya pegang rupiah.
  • Pelaku usaha impor sebaiknya mulai lindung nilai (hedging).

Kesimpulannya, rupiah belum keluar dari tekanan global. Dalam situasi seperti ini, kunci utamanya bukan hanya kebijakan, tapi juga kepercayaan pasar. (*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Rupiah Terjepit di Rp17.300-an: Efek Domino Minyak Mahal, Dolar Menguat, dan Strategi Bertahan BI

Iklan