Padang Panjang, suluah.id - Di sebuah sudut Kelurahan Pasar Usang, gerakan peduli lingkungan tumbuh dari tempat yang sederhana: rumah seorang warga bernama Eli Fahmi. Bagi masyarakat sekitar, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang belajar tentang bagaimana sampah bisa berubah menjadi harapan.
Eli Fahmi dikenal sebagai kader lingkungan hidup sekaligus pengelola Bank Sampah Anggrek Bulan. Aktivitasnya tak hanya sebatas mengumpulkan dan memilah sampah. Ia juga kerap diundang sekolah maupun berbagai instansi sebagai narasumber pengelolaan sampah, berbagi pengalaman tentang cara mengurangi limbah sejak dari rumah.
Di halaman rumahnya, berbagai barang unik tersusun rapi. Hiasan dinding, keranjang, hingga pernak-pernik dekorasi lahir dari sampah rumah tangga yang diolah kembali. Tak sekadar artistik, karya-karya itu tetap memiliki fungsi sesuai kegunaannya—menjadi bukti bahwa kreativitas dapat berjalan seiring kepedulian lingkungan.
Semangat edukasi Eli Fahmi juga hadir melalui taman baca yang ia kelola sendiri. Anak-anak sekolah sering datang untuk membaca sekaligus belajar memahami isu lingkungan hidup. Di ruang sederhana itu, literasi tentang pengelolaan sampah diperkenalkan secara ringan namun bermakna, menanamkan kesadaran sejak usia dini.
Meski telah meraih berbagai prestasi, Eli tetap konsisten mengelola Bank Sampah Anggrek Bulan dari rumahnya. Baginya, perubahan lingkungan tidak selalu dimulai dari program besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama masyarakat.
Dari Pasar Usang, Eli Fahmi terus menyebarkan inspirasi—bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari langkah sederhana setiap hari. (*)





