Suluah.id - Indonesia kembali memainkan kartu strategisnya di panggung industri nikel global. Pemerintah resmi merilis revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel—sebuah kebijakan yang mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya bisa terasa hingga rantai industri baterai dunia.
Laporan Shanghai Metals Market menyebutkan revisi yang diumumkan pada 13 April itu bukan sekadar penyesuaian angka. Pemerintah mengubah coefficient factor (CF) bijih nikel sekaligus menambahkan komponen harga baru untuk unsur kobalt, besi, dan kromium.
Artinya, nilai bijih nikel kini dihitung lebih “lengkap” mengikuti kandungan logamnya.
Hasilnya langsung terlihat. Untuk bijih nikel limonit kadar 1,2%, HPM baru diperkirakan melonjak drastis menjadi sekitar US$40,13 per wet metric ton (wmt)—naik lebih dari 130 persen dibanding sebelumnya yang hanya US$17,33/wmt.
Sebagai perbandingan, harga rata-rata bijih nikel laterit lokal versi Shanghai Metals Market saat ini masih berada di kisaran US$28,5/wmt. Jika HPM benar-benar menjadi harga minimum transaksi mulai 15 April 2026, maka pasar domestik praktis harus menyesuaikan ke level baru tersebut.
Di sinilah efek domino mulai terasa.
Kenaikan harga bijih otomatis mendorong naik biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama rantai baterai kendaraan listrik. Perhitungan menunjukkan biaya produksi MHP berbasis bijih limonit non-captive—yakni pabrik yang membeli bahan baku dari luar—berpotensi naik sekitar US$1.700 per ton nikel.
Kenaikan harga bijih otomatis mendorong naik biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama rantai baterai kendaraan listrik. Perhitungan menunjukkan biaya produksi MHP berbasis bijih limonit non-captive—yakni pabrik yang membeli bahan baku dari luar—berpotensi naik sekitar US$1.700 per ton nikel.
Bagi penambang, kebijakan ini terlihat seperti angin segar karena meningkatkan nilai jual sumber daya. Namun bagi smelter dan produsen bahan baterai, situasinya berbeda: margin bisa tertekan, terutama bagi pelaku industri yang tidak memiliki tambang sendiri.
Di balik angka-angka tersebut, pesan besarnya jelas. Indonesia sedang mempertegas posisi sebagai pengatur harga, bukan sekadar pemasok bahan mentah. Negara ingin memastikan nilai tambah mineral dinikmati lebih besar di dalam negeri.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah harga nikel akan naik, melainkan siapa yang paling siap beradaptasi. Dalam industri strategis seperti baterai kendaraan listrik, perubahan formula kecil sering kali menjadi sinyal perubahan peta kekuatan global. (*)

