Iklan

Di Tengah Hari yang Padat, Jangan Lupa Bersyukur

11 Februari 2026, 11:29 WIB


Suluah.id - Pagi belum benar-benar mulai, tapi notifikasi sudah antre. Grup kerja berbunyi. Email masuk. Kalender penuh. Kita belum sempat menghela napas, tapi sudah merasa lelah.

Di tengah ritme hidup yang makin cepat, banyak orang berpikir bahwa bersyukur itu butuh waktu khusus—harus duduk tenang, harus suasana hening, harus momen besar.
Padahal tidak.

Kuncinya bukan pada berapa lama kita bersyukur, tapi pada kesadaran yang hadir di sela-sela aktivitas.

Dan kabar baiknya: kesadaran itu bisa dilatih. Bahkan hanya dalam hitungan detik.

Syukur Kilat: Menemukan Nikmat di Tengah Macet


Kita sering menunggu hal besar untuk merasa bersyukur: kenaikan gaji, kesehatan pulih, atau doa yang terkabul. Padahal, sebagian besar nikmat hadir dalam bentuk yang sangat biasa—dan justru karena biasa, ia luput dari perhatian.

Sedang terjebak macet?
AC kendaraan masih dingin. Mesin masih mau menyala. Itu nikmat.

Mendapat chat pekerjaan yang mendadak?
Mata masih bisa membaca. Otak masih bisa berpikir. Itu nikmat.

Minum segelas air atau kopi hangat?
Coba rasakan alirannya di tenggorokan. Bagi orang yang sedang sakit atau mengalami gangguan ginjal, itu adalah kemewahan.

Dalam psikologi modern, praktik ini dikenal sebagai micro-gratitude—kesadaran singkat terhadap hal kecil yang menyenangkan.

Penelitian dari Robert Emmons, profesor psikologi di University of California, menunjukkan bahwa kebiasaan mencatat atau menyadari rasa syukur secara rutin dapat meningkatkan kebahagiaan hingga 25 persen dibandingkan kelompok yang tidak melakukannya.

Artinya, syukur bukan cuma ajaran spiritual. Ia juga strategi ilmiah untuk menjaga kesehatan mental.

“Jurnal 3 Hal”: Melatih Otak Mencari Kebaikan


Coba bayangkan ini.
Sebelum tidur atau saat baru bangun, luangkan satu menit saja. Setelah berdoa, sebutkan tiga hal spesifik yang terjadi hari itu dan patut disyukuri.

Contohnya sederhana:
“Makasih ya Allah, makan siang tadi enak.”
“Dapat parkir dekat pintu masuk.”
“Kerjaan selesai tepat waktu.”
Kecil? Iya. Tapi dampaknya besar.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa orang yang secara konsisten menuliskan tiga hal yang mereka syukuri selama 10 minggu mengalami peningkatan optimisme, kualitas tidur yang lebih baik, dan tingkat stres yang lebih rendah.

Kenapa ini bekerja?
Karena otak kita punya kecenderungan alami yang disebut negativity bias—lebih cepat menangkap ancaman dan masalah dibanding kebaikan. Dengan melatih diri menyebutkan tiga hal baik setiap hari, kita seperti “mengatur ulang radar”, agar tak melulu mencari celah kekurangan.

Dalam perspektif spiritual, ini selaras dengan pesan Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Mulk ayat 23 disebutkan bahwa Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati—namun sedikit sekali yang bersyukur. Artinya, syukur bukan sekadar ucapan, tapi kesadaran aktif menggunakan indera untuk mengenali kebaikan.

Syukur Sosial: Dari Lisan ke Tindakan


Syukur paling kuat bukan yang hanya berhenti di hati, tapi yang mengalir ke sesama.

Rekan kerja membantu menyelesaikan tugas?
Jangan berhenti di “Thanks.”
Coba tambahkan doa:
“Terima kasih ya, semoga jadi amal baik buat kamu.”

Ucapan sederhana seperti itu bukan hanya menguatkan relasi sosial, tapi juga memperluas makna syukur.

Menurut penelitian dari Harvard Business School, ekspresi terima kasih yang tulus meningkatkan hubungan kerja, memperkuat kepercayaan, dan bahkan meningkatkan produktivitas tim. Rasa syukur bersifat menular. 

Ketika satu orang mempraktikkannya, orang lain cenderung ikut merespons dengan sikap positif.

Dalam tradisi Islam, syukur tidak berhenti di lisan (syukr bil-lisan), tapi juga diwujudkan dalam tindakan (syukr bil-‘amal). Membantu orang lain, mendoakan kebaikan, atau memanfaatkan nikmat untuk kebaikan adalah bentuk syukur yang nyata.

Syukur Itu Otot


Bayangkan syukur seperti otot.
Jika jarang dilatih, ia lemah. Saat ujian besar datang—kehilangan, sakit, kegagalan—kita mudah goyah.

Tapi jika setiap hari ia dilatih lewat hal kecil—AC yang dingin, air yang mengalir, parkir yang dekat, rekan kerja yang suportif—maka saat badai datang, kita lebih kokoh.

Di era ketika stres kerja meningkat dan gangguan kecemasan makin umum (data WHO menunjukkan depresi dan kecemasan meningkat signifikan pascapandemi), kemampuan untuk menyadari nikmat kecil bisa menjadi benteng psikologis yang sederhana namun kuat.

Dan yang menarik, latihan ini tidak butuh waktu lama. Tidak perlu retreat. Tidak perlu aplikasi mahal.
Cukup satu menit.
Cukup satu kesadaran.
Cukup satu kalimat syukur yang jujur.

Karena mungkin, yang membuat hidup terasa berat bukan semata-mata bebannya—tetapi karena kita lupa menghitung nikmat yang masih setia menemani.

Kalau pagi ini kamu diminta menyebutkan satu hal yang paling kamu syukuri, apa itu?
Mungkin jawabannya sederhana.
Dan justru karena sederhana, ia berharga. (*) 
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Di Tengah Hari yang Padat, Jangan Lupa Bersyukur

Iklan