Suluah.id - Nama RSUD dr. H. Abdul Moeloek nyaris tak terpisahkan dari denyut layanan kesehatan di Provinsi Lampung. Rumah sakit rujukan terbesar di daerah itu menjadi saksi ribuan kisah lahir, sakit, dan sembuh.
Namun, tak semua orang tahu bahwa nama besar yang terpatri di gerbang rumah sakit tersebut berasal dari seorang anak Minangkabau, lahir jauh dari Lampung—di Padang Panjang, Sumatera Barat, lebih dari seabad silam.
Ia adalah Abdul Moeloek, dokter, pendidik, sekaligus tokoh kemanusiaan yang pengabdiannya melampaui sekat geografis dan identitas kedaerahan.
Merantau Sejak Belia, Menjemput Ilmu hingga Batavia
Semangat merantau Abdul Moeloek tumbuh sejak usia yang sangat muda. Baru 12 tahun, ia meninggalkan Padang Panjang menuju Batavia—sebuah langkah besar bagi anak bumiputra di awal abad ke-20. Tujuannya jelas: pendidikan.Puncak perjalanan intelektualnya adalah saat ia diterima di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran paling prestisius pada masa Hindia Belanda.
Lembaga ini dikenal keras, disiplin, dan hanya meluluskan segelintir murid terbaik. Pada 1932, Abdul Moeloek resmi menyandang gelar dokter.
Bagi banyak lulusan STOVIA, ijazah adalah tiket menuju status sosial. Namun bagi Abdul Moeloek, ilmu kedokteran justru menjadi alat pengabdian.
STOVIA sendiri melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa, seperti dr. Cipto Mangunkusumo dan dr. Soetomo—menjadikannya bukan sekadar sekolah dokter, tetapi kawah candradimuka intelektual pergerakan nasional.
Mengabdi di Pedalaman, Menyatu dengan Rakyat
Masa pendudukan Jepang menjadi titik balik hidupnya. Di tengah situasi politik yang rawan—terutama bagi kaum intelektual—Abdul Moeloek memilih menyingkir ke Way Tenong, Liwa, Lampung Barat, sebuah wilayah pedalaman yang saat itu minim layanan kesehatan.
Di sinilah sisi kemanusiaannya benar-benar diuji.
Bersama sang istri, Poeti Alam Naisjah, perempuan Minang asal Solok, mereka membangun kehidupan sederhana namun bermakna. Abdul Moeloek membuka praktik pengobatan bagi warga desa tanpa pamrih, sementara istrinya mengajar anak-anak setempat membaca dan menulis.
Tak ada fasilitas modern. Tak ada bayaran tetap. Yang ada hanyalah kepercayaan masyarakat.
Pelan tapi pasti, pasangan ini tak lagi dianggap sebagai pendatang. Mereka menjadi bagian dari komunitas—keluarga besar masyarakat Lampung.
Dari Rumah Sakit Sederhana hingga Institusi Kesehatan Utama
Pasca-kemerdekaan Indonesia, Abdul Moeloek pindah ke Tanjung Karang. Ia dipercaya mengambil alih pengelolaan rumah sakit yang sebelumnya dikuasai tentara Jepang. Tugas berat itu ia jalani dengan disiplin dan visi jangka panjang.
Di bawah kepemimpinannya, rumah sakit tersebut berkembang menjadi pusat layanan kesehatan penting di Lampung. Ia bukan hanya kepala rumah sakit, tetapi juga mentor bagi tenaga medis muda, membangun etos kerja berbasis pelayanan dan empati.
Ketika Abdul Moeloek wafat pada 1973, Lampung kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sebagai bentuk penghormatan, DPRD Provinsi Lampung sepakat mengabadikan namanya menjadi RSUD dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM)—sebuah penghargaan langka yang menegaskan betapa besar jasanya.
Warisan yang Tak Pernah Padam
Jejak Abdul Moeloek tak berhenti pada sebuah nama rumah sakit. Ia meninggalkan warisan intelektual yang hidup dalam keluarganya—yang kerap disebut sebagai “dinasti dokter”.
Salah satu putranya, dr. Faried Anfasa Moeloek, melanjutkan pengabdian di level nasional dengan menjabat Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2004–2009). Nilai-nilai yang diwariskan sang ayah—kesederhanaan, keberpihakan pada rakyat kecil, dan integritas profesi—terus hidup lintas generasi.
Minang yang Menjadi Lampung
Kisah Abdul Moeloek adalah cermin dari falsafah Minangkabau:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Ia lahir sebagai orang Minang, tetapi wafat sebagai milik Lampung. Ia datang sebagai perantau, namun pulang sebagai tokoh yang namanya dikenang lintas zaman.
Di tengah hiruk-pikuk modernisasi layanan kesehatan hari ini, kisah Abdul Moeloek mengingatkan kita bahwa inti dari profesi dokter bukan sekadar teknologi atau gedung megah, melainkan keberanian untuk hadir di tengah rakyat, saat mereka paling membutuhkan.
(*)



