Suluah.id - Bayangkan Anda membeli jersey bola edisi terbatas seharga Rp1.000.000. Beberapa bulan kemudian, orang-orang di marketplace hanya mau menawar Rp600.000. Secara teori, Anda "rugi" Rp400.000 — tapi uang di dompet Anda tidak langsung lenyap, bukan? Jersey itu masih ada di lemari. Kerugian baru benar-benar terjadi kalau Anda menjualnya di harga murah itu.
Itulah unrealized loss — atau yang lebih akrab disebut floating loss alias "rugi di atas kertas."
Relevan Banget dengan Kondisi Sekarang
Kondisi ini bukan sekadar teori. Sejak awal tahun hingga Mei 2026, IHSG sudah terkoreksi sekitar 29% secara year-to-date, dengan seluruh sektor saham di BEI kompak melemah.
Bahkan pada 8 Juni lalu, IHSG dibuka anjlok hampir 2% ke level 5.486, dengan tekanan yang datang dari sentimen lonjakan harga minyak dan tingginya suku bunga global.
Wajar kalau portofolio Anda kini berwarna merah menyala. Tapi penting untuk memahami perbedaan ini:
- Unrealized Loss → Saham turun, belum dijual. Jumlah lembar saham Anda tetap sama; hanya harganya yang sedang "diskon" di pasar. Selama Anda tidak menekan tombol sell, kerugian itu belum nyata.
- Realized Loss → Saham turun, sudah dijual. Kerugian di atas kertas resmi jadi kerugian nyata. Ini baru dilakukan jika fundamental perusahaan memang sudah memburuk tanpa harapan pemulihan.
Kenapa Kita Gampang Panik?
Ada ilmu di balik kepanikan ini: loss aversion (keengganan merugi). Secara psikologis, rasa sakit kehilangan Rp1 juta itu dua kali lebih kuat dibanding kebahagiaan mendapat Rp1 juta.Melihat angka merah di aplikasi investasi memicu panic selling — padahal koreksi pasar adalah siklus yang wajar dan telah berulang sepanjang sejarah bursa Indonesia.
Tips Praktis Saat Porto Merah:
- Evaluasi fundamental — Apakah kinerja perusahaannya masih solid? Jika ya, bersabarlah.
- Jangan cek porto terlalu sering — Ini hanya memperparah kecemasan.
- Ingat horizon investasi Anda — Saham adalah instrumen jangka panjang.
- Cut loss hanya jika perlu — Yakni ketika fundamental perusahaan benar-benar rusak.
Tingkatkan literasi keuangan Anda setiap hari — karena investor yang cerdas bukan yang paling berani, melainkan yang paling tahu kapan harus diam. (*)


