Iklan

Bukan Meramal, tapi Memahami: Prinsip Investasi Howard Marks untuk Menghadapi Siklus Pasar

26 Oktober 2026, 11:46 WIB
 


Suluah.id - Apa yang membedakan investor biasa dari investor luar biasa? Howard Marks, pendiri Oaktree Capital, menjawabnya dalam The Most Important Thing: bukan kemampuan menebak masa depan, melainkan kemampuan memahami nilai, mengelola risiko, dan berpikir lebih dalam daripada kebanyakan orang. Buku ini menjadi rujukan para investor yang mengutamakan kehati-hatian.

Harga Harus Sejalan dengan Nilai

Investasi hebat lahir dari selisih antara harga dan nilai intrinsik. Sebesar apa pun perusahaannya, bila harganya terlalu tinggi, investasinya tetap buruk. Nilai intrinsik, yakni nilai perusahaan berdasarkan fundamentalnya dan bukan harga saham, menjadi kompas untuk menilai kapan saham murah atau terlalu mahal.

Marks mengajak investor bermain bertahan. Mantra utamanya: jika kita menghindari saham-saham yang gagal, saham-saham pemenang akan mengurus dirinya sendiri. Ia juga menganut contrarian investing. Untuk saham berkapitalisasi besar, hanya aset yang tidak populer yang bisa benar-benar murah, sehingga investor membeli dari penjual yang tertekan dan menjual kepada pembeli yang euforia.

Risiko Bukan Sekadar Volatilitas

Sekolah bisnis mengajarkan risiko sebagai volatilitas, yakni rentang fluktuasi harga. Marks menolak cara pandang ini. Risiko adalah probabilitas kehilangan modal secara permanen. Imbal hasil lebih tinggi memang biasanya datang bersama risiko lebih besar, tetapi itu juga berarti rentang hasil yang lebih lebar, termasuk peluang rugi.

Masa depan pun dapat dipandang sebagai distribusi probabilitas, dan kita tak pernah tahu hasil mana yang terjadi. Bahkan bila seluruh kemungkinan dan peluangnya diketahui, hal yang paling mustahil kerap tetap terjadi. Karena itu, ia menyarankan dua langkah: fokus pada sisi negatif setiap investasi, sebab bila kerugian terbatas maka keuntungan akan mengikuti, dan pahami risikonya, karena pemahaman otomatis membantu menghindarinya.

Memahami Siklus dan Tak Meramal Makro

Pasar bergerak dalam siklus, dari optimisme hingga euforia, lalu pesimisme dan keputusasaan. Menyadari posisi kita dalam siklus membantu menyesuaikan eksposur risiko dan memanfaatkan irasionalitas pasar. 

Sebaliknya, tak seorang pun tahu arah ekonomi makro. Contohnya proyeksi suku bunga: para ahli kerap meleset karena terus memperkirakan bunga jangka panjang akan lebih tinggi. Pelajarannya, fokuslah pada hal mikro.

Psikologi Investor yang Unggul

Marks menekankan second-level thinking: jangan berhenti pada konsekuensi pertama, tanyakan terus "lalu apa?" Ia juga menekankan pentingnya mengakui ketidakpastian. Masa depan tak dapat diketahui, bahkan oleh para pakar, jadi investor perlu fleksibel dan mengubah pandangan ketika fakta berubah.

Kerendahan hati menjadi benteng terhadap rasa percaya diri berlebihan yang sering berujung kesalahan. Seperti dikatakan Peter Bernstein, kemampuan bertahan adalah tempat para pemenang berada, dan bertahan dimulai dari kerendahan hati.

Pesan Marks jelas: bayar harga yang wajar, definisikan risiko dengan benar, pelajari siklus, dan tetaplah rendah hati. Investor terbaik bukan peramal ulung, melainkan pemikir yang waspada.
(*)
Komentar
Mari berkomentar secara cerdas, dewasa, dan menjelaskan. #JernihBerkomentar
  • Bukan Meramal, tapi Memahami: Prinsip Investasi Howard Marks untuk Menghadapi Siklus Pasar

Iklan